Korban Tewas Serangan Teroris di Balochistan Mencapai 250 Orang
JAKARTA - Lebih dari 250 orang tewas dalam serangan terkoordinasi yang dilancarkan oleh teroris di seluruh provinsi Balochistan, Pakistan, sejak Sabtu (31/1/2026), kata seorang pejabat keamanan. Pertempuran antara pasukan keamanan dengan kelompok militan di Balochistan masih terus berlanjut.
Pakistan telah memerangi pemberontakan Baloch selama beberapa dekade, dengan serangan bersenjata yang sering terjadi terhadap pasukan keamanan, warga negara asing, dan warga Pakistan non-lokal di provinsi kaya mineral yang berbatasan dengan Afghanistan dan Iran.
Seorang pejabat senior, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan kepada AFP pada Rabu (4/2/2026) bahwa "197 teroris telah tewas dalam operasi kontra-terorisme yang sedang berlangsung."
Ia menambahkan bahwa setidaknya 36 warga sipil dan 22 personel keamanan tewas selama serangan terkoordinasi di Balochistan yang bergejolak.
Bentrokan sporadis masih terjadi di beberapa distrik, setelah militan menyerbu bank, penjara, kantor polisi, dan instalasi militer selama akhir pekan.
Menteri Utama Balochistan, Sarfraz Bugti, mengatakan dalam konferensi pers di Quetta pada Minggu (1/2/2026) bahwa semua distrik yang diserang telah dibersihkan.
"Kami mengejar mereka, kami tidak akan membiarkan mereka pergi begitu saja," katanya.
Tentara Pembebasan Baloch (BLA), kelompok separatis bersenjata paling aktif di provinsi itu, mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut dalam sebuah pernyataan yang dikirim ke AFP.
Kelompok tersebut, yang telah ditetapkan oleh Amerika Serikat sebagai organisasi teroris, mengatakan telah menargetkan instalasi militer serta polisi dan pejabat administrasi sipil dalam serangan senjata dan bom bunuh diri.
BLA telah meningkatkan serangan terhadap warga Pakistan dari provinsi lain yang bekerja di wilayah tersebut dalam beberapa tahun terakhir, serta perusahaan energi asing.
Tahun lalu, para teroris menyerang kereta api dengan 450 penumpang di dalamnya, memicu pengepungan mematikan selama dua hari.
Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Selasa (3/2/2026) menyebut serangan baru-baru ini sebagai "keji dan pengecut."










