Menag Ungkap Pesantren Masih Kekurangan Guru Tahfidz Perempuan
JAKARTA, iNews.id - Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, mengungkapkan mayoritas pesantren kekurangan guru tahfidz perempuan untuk membimbing santriwati. Menurutnya, keberadaan guru tahfidz perempuan dibutuhkan secara mendesak.
Hal ini disampaikan Menag saat menghadiri peringatan Hari Lahir ke-15 Jam'iyyah Hafidzotil Qur'an (JHQ) di Kendal. Ia menilai, kebutuhan perempuan penghafal Alquran ini menjadi peluang emas bagi para hafizah untuk berkiprah lebih luas di kancah nasional.
"Keberadaan lembaga tahfidz putri sangat krusial. Kita melihat adanya kebutuhan mendesak akan kehadiran guru-guru tahfidz perempuan yang kompeten di berbagai daerah," ungkap Nasaruddin dikutip, Senin (12/1/2026).
Menurutnya, hal itu menjadi peran strategis para hafizah untuk memperkuat pendidikan Alquran di Indonesia. Ia pun mengapresiasi potensi besar yang dimiliki Kabupaten Kendal.
Nasaruddin menjelaskan, kehadiran ribuan perempuan penghafal Alquran dinilai sebagai aset sumber daya manusia (SDM) yang strategis untuk pembangunan moral bangsa.
"Saya sangat mengapresiasi pemandangan luar biasa ini. Ribuan hafizah berkumpul dalam satu forum adalah potensi besar yang harus kita berdayakan secara optimal untuk kemaslahatan umat dan bangsa," ujarnya.
Oleh karena itu, Nasaruddin berharap, Pemerintah Kabupaten Kendal untuk terus bersinergi dalam membina lembaga tahfidz. Menurutnya, membaca Alquran harus dilakukan dengan kesadaran penuh akan keagungan Tuhan.
"Para hafizah diharapkan tidak berhenti pada kemampuan tekstual semata, namun terus meningkatkan kapasitas diri hingga mampu membumikan nilai-nilai Alquran di tengah masyarakat," imbau Nasaruddin.










