Rupiah Sepekan Anjlok ke Rp16.819 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

Rupiah Sepekan Anjlok ke Rp16.819 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

Terkini | inews | Minggu, 11 Januari 2026 - 18:15
share

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada pekan pertama Januari 2026 ditutup dengan tren pelemahan. Berdasarkan data pasar spot, mata uang Garuda ditutup terkoreksi 0,13 persen ke level Rp16.819 per dolar AS.

Jika diakumulasikan selama sepekan, Rupiah tercatat telah melemah sebesar 0,55 persen dibandingkan posisi akhir pekan lalu yang berada di level Rp16.725 per dolar AS.

Kondisi yang sama juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia yang melemah 0,20 persen ke posisi Rp16.834 per dolar AS.

Bank Indonesia (BI) memantau bahwa pergerakan nilai tukar saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar keuangan global yang ditandai dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) ke posisi 98,93. 

Di sisi lain, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) dalam negeri justru merangkak naik, yang mengindikasikan adanya tekanan di pasar obligasi.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, rincian pergerakan tersebut berdasarkan data harian per Kamis dan Jumat pekan ini.

“Pada saat yang sama, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat naik ke level 6,05 persen,” kata Denny dalam keterangannya.

Memasuki hari terakhir perdagangan pekan ini, tekanan terhadap Rupiah belum mereda. Kenaikan biaya pinjam pemerintah (yield) terus berlanjut seiring dengan melemahnya nilai tukar saat pembukaan pasar.

“Memasuki perdagangan pagi hari Jumat (9/1/2026), rupiah dibuka melemah di level Rp 16.815 per dollar AS, diiringi kenaikan yield SBN 10 tahun ke level 6,15 persen,” tuturnya.

Meskipun yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun di pasar global terpantau turun ke level 4,167 persen, penguatan indeks dolar AS tetap menjadi sentimen utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.

BI diprediksi akan terus berada di pasar untuk memastikan volatilitas tetap terjaga melalui langkah-langkah intervensi jika diperlukan guna menjaga stabilitas moneter nasional.

Topik Menarik