4 Watak Anak dan Cara Menanganinya Menurut Dr Aisyah Dahlan

4 Watak Anak dan Cara Menanganinya Menurut Dr Aisyah Dahlan

Terkini | okezone | Minggu, 11 Januari 2026 - 15:08
share

JAKARTA - Anak memiliki watak yang berbeda satu sama lainnya. Namun, menurut Dr Aisyah Dahlan terdapat 4 watak dan cara penanganannya. 

Watak dasar anak adalah bawaan lahir yang memengaruhi cara mereka merespons, berpikir dan bertindak. Dengan memahami watak anak, maka orangtua, antara lain bisa mengetahui bagaimana cara mengatasinya, berkomunikasi yang efektif dengan anak, mengembangkan bakat dan tujuan, mengetahui hingga potensi anak. Berikut ini penjelasannya seperti dikutip dari shofisyamil29, yang tengah viral di TikTok, Minggu (11/1/2026). 

1. Sanguinis 

Anak dengan kepribadian sanguinis dikenal periang, optimis, dan penuh energi. Mereka senang berinteraksi, mudah akrab dengan siapa saja, serta sering menjadi pusat perhatian karena keceriaan dan ide-idenya yang melimpah. Anak sanguinis biasanya spontan dan ekspresif, membuat suasana di sekitarnya terasa hidup dan menyenangkan.

Namun di balik keceriaannya, anak sanguinis juga membutuhkan pendampingan yang tepat. Mereka cenderung mudah lupa, kurang fokus pada detail, dan sering menunda menyelesaikan sesuatu. Jika tidak diarahkan dengan baik, potensi besar ini bisa terlewatkan begitu saja.

Sebagai orangtua, apresiasi adalah kunci. Pujian tulus, perhatian, dan pengakuan atas usaha mereka akan membuat anak sanguinis merasa dihargai dan termotivasi. Di saat yang sama, penting untuk melatih tanggung jawab sejak dini. Dampingi anak menyelesaikan apa yang sudah mereka mulai, ajarkan konsistensi dengan cara yang lembut namun tegas.

Dengan pola asuh yang penuh dukungan dan arahan positif, anak sanguinis tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang ceria, tetapi juga bertanggung jawab dan percaya diri dalam menghadapi tantangan hidup.

2. Koleris 
Anak dengan kepribadian koleris terlahir sebagai pemimpin dan pelaku. Mereka tegas, mandiri, berkemauan keras, serta memiliki dorongan kuat untuk mencapai tujuan. Anak koleris senang tantangan, produktif, dan berani mengambil risiko. Dalam banyak situasi, mereka tampil percaya diri dan ingin memegang kendali.

Namun di balik ketegasan dan ambisinya, anak koleris sering kesulitan mengekspresikan emosi. Mereka bisa terlihat dingin, kurang sabar, mudah marah, dan cenderung ingin mengatur orang lain. Tanpa pendampingan yang tepat, sifat ini dapat menimbulkan konflik dalam pertemanan maupun keluarga.

Peran orang tua sangat penting untuk mengarahkannya, bukan menekannya. Berikan tugas kepemimpinan yang positif, seperti mengajak anak merencanakan liburan keluarga atau kegiatan bersama. Dengan begitu, energi kepemimpinan mereka tersalurkan secara sehat dan konstruktif.

Di saat yang sama, jangan lupa untuk melatih empati. Ajak anak belajar memahami perasaan orang lain, mendengarkan, dan menghargai sudut pandang yang berbeda. Dengan pola asuh yang seimbang antara ketegasan dan kehangatan, anak koleris dapat tumbuh menjadi pemimpin yang kuat, bijak, dan berempati.

 

3. Melankolis 

Anak dengan kepribadian melankolis dikenal analitis, peka, dan penuh pertimbangan. Mereka cenderung tenang, terencana, serta memiliki perhatian tinggi pada detail. Anak melankolis biasanya rapi, teliti, dan perfeksionis, dengan cara berpikir yang mendalam dan matang. Mereka adalah pengamat yang baik dan setia pada nilai yang diyakini.

Namun, kepekaan ini sering membuat anak melankolis mudah cemas dan terlalu kritis pada diri sendiri. Mereka bisa merasa takut gagal, mudah tersinggung, dan kesulitan menerima kritik. Ketika standar yang mereka pasang terlalu tinggi, anak melankolis kerap merasa tidak pernah cukup baik.

Sebagai orang tua, penting untuk menciptakan ruang yang aman bagi mereka. Berikan waktu sendiri agar anak bisa merenung, menenangkan diri, dan fokus tanpa tekanan. Hargai proses berpikir mereka, meski terkadang terlihat lambat di mata orang lain.

Tak kalah penting, bantu anak menghadapi kegagalan dengan sudut pandang yang sehat. Ajarkan bahwa kesalahan adalah bagian dari belajar, dan tidak semua hal harus berjalan sempurna. Dengan dukungan emosional yang tepat, anak melankolis akan tumbuh menjadi pribadi yang bijak, empatik, dan kuat secara mental.

4. Phlegmatis

Anak dengan kepribadian phlegmatis dikenal tenang, santai, dan penuh kedamaian. Mereka cenderung kalem, tidak menyukai konflik, mudah beradaptasi, serta menjadi pendengar yang baik. Kehadiran anak phlegmatis sering membawa suasana aman dan stabil di dalam keluarga.

Di balik ketenangannya, anak phlegmatis memiliki kesabaran tinggi, bersikap objektif, setia, dan terkadang humoris dengan caranya sendiri. Namun, sifat ingin aman ini juga bisa membuat mereka suka menunda, kurang tegas, dan sulit termotivasi. Saat menghadapi masalah, anak phlegmatis sering memilih diam daripada menyuarakan pendapat.

Peran orangtua sangat penting untuk membangkitkan keberanian mereka. Berikan target yang jelas, bantu anak memahami tujuan dan batas waktu agar mereka terbiasa bergerak dan bertanggung jawab. Hindari tekanan berlebihan, namun tetap konsisten dalam pendampingan.

Selain itu, dorong anak untuk berpendapat. Ajak mereka membuat pilihan sederhana, mengambil keputusan, dan menyampaikan perasaan dengan percaya diri. Dengan dukungan yang tepat, anak phlegmatis akan tumbuh menjadi pribadi yang tenang, bijak, dan tegas tanpa kehilangan sisi damainya.

Topik Menarik