BEI Luncurkan Indonesia ESG Bond Index, Tangkap Minat Investasi Hijau

BEI Luncurkan Indonesia ESG Bond Index, Tangkap Minat Investasi Hijau

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 6 November 2026 - 11:34
share

IDXChannel - Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) bersama resmi meluncurkan Indonesia ESG Bond Index sebagai acuan baru penunjang ceruk pendanaan progresif di pasar modal domestik. 

Kehadiran indeks tematik ini diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan ekspansi bisnis korporasi dengan tuntutan pelestarian lingkungan melalui instrumen efek bersifat utang yang kredibel dan terukur. Pasar modal Indonesia terus memperluas infrastruktur perdagangan efek untuk menangkap geliat investasi hijau yang kian diminati komunitas pemodal global. 

Direktur Utama PHEI, Kadhafi Mukrom menekankan, kehadiran tolok ukur obligasi berkelanjutan ini didorong untuk mampu mengakselerasi permodalan bagi proyek-proyek ramah lingkungan tanpa mengesampingkan profitabilitas usaha.

"Peluncuran Indonesia ESG Bond Index pada hari ini sejalan dengan tren keuangan berkelanjutan yang terus berkembang dalam industri keuangan global, termasuk di pasar modal dan industri efek," ujar Kadhafi di Main Hall BEI, Jakarta, Jumat (6/11/2026).

Pertumbuhan instrumen surat utang berbasis lingkungan di tanah air sendiri mencatatkan akselerasi positif sejak penerbitan perdana Sovereign Green Sukuk pada 2018 lalu. Dinamika pasar ini kian terakselerasi berkat dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui penerbitan POJK Nomor 60 Tahun 2017 yang kemudian diperluas hingga mencakup aspek sosial dan keberlanjutan.

"Berdasarkan data terkini per akhir Oktober 2026, total obligasi dan sukuk yang berwawasan keberlanjutan dengan denominasi rupiah telah mencapai nilai sekitar Rp89 triliun, didukung landasan regulasi OJK yang terus berkembang untuk memperluas instrumen pembiayaan hijau di Indonesia," kata Kadhafi.

Sebagai lembaga penilai harga efek yang terdaftar di OJK, PHEI menyediakan sarana indeks ini untuk memberikan transparansi pergerakan harga bagi pelaku pasar dan emiten penerbit. Ketersediaan data acuan tersebut sekaligus memicu peluang diversifikasi produk investasi baru yang dapat diserap oleh para manajer investasi.

"Kami meluncurkan Indonesia ESG Bond Index yang terdiri dari dua indeks, yaitu ID ESG Bond Total Return Index dan ID ESG Bond Clean Price Index, dirancang untuk melengkapi ketersediaan benchmark bagi investor dalam memantau kinerja portofolio sekaligus membuka peluang penerbitan produk investasi berbasis indeks di masa mendatang," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Pengembangan PT BEI Iding Pardi menekankan soal sejalan dengan inisiatif tersebut, otoritas bursa memandang instrumen pembiayaan hijau sebagai jembatan strategis untuk mentransformasi sektor riil menuju ekonomi rendah karbon. Kebutuhan modal industri untuk peremajaan mesin ramah lingkungan kini dapat dipertemukan langsung dengan ketersediaan likuiditas pemodal institusi.

"Perusahaan membutuhkan investasi untuk meningkatkan efisiensi energi, menggunakan teknologi yang bersih, maupun memperluas manfaat sosial, sementara investor membutuhkan investasi yang kredibel dan pilihan instrumen yang beragam. Di sinilah pasar modal Indonesia memiliki peran penting mempertemukan perusahaan yang membutuhkan pembiayaan berbasis ESG dengan investor untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan," tutur Iding dalam kesempatan sama.

Ekosistem pasar modal domestik dinilai kian matang seiring meningkatnya kesadaran emiten dalam mempublikasikan rekam jejak tata kelola lingkungan dan sosialnya. Keterbukaan informasi ini menjadi modal berharga bagi investor untuk menakar profil risiko serta prospek fundamental jangka panjang perusahaan.

"Setidaknya bisa kita lihat dari sisi keterbukaan informasi, 85 persen perusahaan tercatat telah menyampaikan paparan keberlanjutan, dan lebih dari 51 perusahaan dalam Indeks IDX-30 telah memiliki komitmen ESG yang menjadi agenda tersendiri dari korporasi," kata Iding.

Pertumbuhan minat investasi hijau juga tecermin nyata pada ekspansi dana kelolaan produk reksa dana berbasis lingkungan di lantai bursa. Ke depan, regulator bursa telah menyiapkan klasifikasi khusus untuk mengapresiasi emiten yang aktif menjalankan transisi operasional ramah lingkungan.

"Hingga September 2026 dana kelolaan ESG Fund yang mencakup ETF mencapai sekitar Rp5,85 triliun, akumulasi penerbitan obligasi dan sukuk keberlanjutan sejak 2018 menembus Rp89,46 triliun, dan Bursa Efek Indonesia akan memberikan green equity designation pada tiga perusahaan yang di dalamnya termasuk kategori transisi," katanya.

(Rahmat Fiansyah)

Topik Menarik