Belajar dari China, Wamen Stella Ingin Riset Kampus di RI Bisa Ciptakan Peluang Industri Baru

Belajar dari China, Wamen Stella Ingin Riset Kampus di RI Bisa Ciptakan Peluang Industri Baru

Terkini | idxchannel | Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:38
share

IDXChannel - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menyoroti peran riset perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan industri saat ini. Menurutnya, penelitian juga harus mampu menciptakan inovasi yang dapat membuka peluang pasar baru.

Dalam kesempatan tersebut, Stella menceritakan pengalamannya mengikuti pertukaran pelajar di China selama satu semester saat masih menjadi mahasiswa di Harvard. Dia mengatakan, pada masa itu sepeda listrik hingga kendaraan listrik belum banyak dijumpai seperti sekarang. Namun, perkembangan industri kendaraan listrik di negara tersebut kemudian berlangsung pesat.

“Saat itu saya di Harvard, tetapi saya belajar selama satu semester di China. Pada waktu itu belum ada sepeda listrik, motor listrik, maupun mobil listrik,” kata Stella dalam PERIKLINDO Electric Vehicle Conference (PEVC) 2026 pada Rabu (28/10/2026).

Dia menambahkan, pesatnya perkembangan kendaraan listrik di China tidak terjadi dalam semalam. Di balik industri yang kini berkembang besar, ada proses panjang yang melibatkan riset dan inovasi. 

Pengalaman itu menjadi salah satu contoh yang disoroti Stella untuk menunjukkan pentingnya riset dalam membangun industri berbasis teknologi. Menurut dia, perguruan tinggi menjadi salah satu tempat lahirnya inovasi yang dapat mengubah perkembangan suatu industri.

Stella menjelaskan, perguruan tinggi memiliki dua peran utama dalam pengembangan sains dan teknologi. Pertama, merespons kebutuhan pasar atau respond to the market. 

Kedua, memimpin pasar melalui inovasi atau lead the market. Peran pertama berkaitan dengan kemampuan menghasilkan penelitian yang menjawab persoalan industri. 

Sementara itu, peran kedua menuntut kampus menghasilkan terobosan yang dapat menciptakan teknologi baru sekaligus memengaruhi arah perkembangan pasar.

Menurut Stella, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan penelitian yang mengikuti kebutuhan industri saat ini. Jika riset hanya berfokus pada permintaan yang sudah ada, perguruan tinggi akan kesulitan mengantisipasi kebutuhan pasar pada masa mendatang.

“Kalau kita hanya merespons kepada pasar, kita tidak bisa mengantisipasi apa yang dibutuhkan oleh pasar. Itulah adanya inovasi-inovasi riset di perguruan tinggi,” ujarnya.

Dia juga menyoroti pentingnya perubahan dalam pola penelitian di perguruan tinggi. Stella menanggapi tantangan Ketua Umum PERIKLINDO Moeldoko mengenai hasil inovasi kampus yang dinilai cenderung serupa dari tahun ke tahun.

Menurut Stella, penelitian yang terus menghasilkan hal yang sama akan menyulitkan Indonesia membangun industri kendaraan listrik yang kompetitif.

Selain mendorong inovasi, Stella menilai riset juga berperan penting dalam membuat kendaraan listrik lebih terjangkau bagi masyarakat.

Dia menjelaskan efisiensi menjadi salah satu faktor utama dalam pengembangan motor dan mobil listrik. Teknologi yang semakin efisien dapat membantu menekan biaya sehingga kendaraan listrik berpeluang ditawarkan dengan harga yang lebih kompetitif.

“Di dalam EV, efisiensi adalah segalanya. Tanpa efisiensi, tidak akan kita bisa membuat motor dan mobil listrik yang murah, yang bisa dijangkau oleh masyarakat,” kata Stella.

Menurut dia, keterjangkauan harga menjadi hal penting untuk mendorong perkembangan industri kendaraan listrik. Jika harga kendaraan listrik masih sulit bersaing dengan kendaraan berbahan bakar minyak, peralihan masyarakat menuju kendaraan listrik juga akan menghadapi tantangan.

“Karena itu, inovasi tidak cukup hanya menghasilkan teknologi baru. Penelitian juga perlu diarahkan untuk menciptakan teknologi yang efisien dan dapat dikembangkan dalam skala industri,” kata Stella.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik