Valuasi Saham Bisa Setara Era Krisis 1998, Danantara-Dana Pensiun Bisa Jadi Penopang?
IDXChannel - Valuasi saham Indonesia berpotensi kembali ke level yang terakhir terlihat setelah krisis keuangan Asia 1997-1998 jika tekanan jual investor asing meluas.
Di tengah risiko tersebut, kemampuan investor domestik, termasuk dana pensiun dan Danantara, menyerap aksi jual menjadi salah satu faktor yang dapat menentukan seberapa dalam pasar saham terkoreksi.
Analis Trimegah Sekuritas Aldo Perkasa dan Alberto Jonas Kusuma, dalam riset yang terbit pada 25 Oktober 2026, memperkirakan tekanan jual asing akibat risiko perubahan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI dapat mendorong valuasi saham lebih rendah dari posisi saat ini.
Pada penutupan perdagangan 22 Oktober 2026, pasar saham Indonesia diperdagangkan pada rasio price to earnings (P/E) 8,4 kali berdasarkan proyeksi laba 2026, dengan rasio price to book value (P/BV) 1,3 kali dan imbal hasil dividen 8,6 persen.
Dalam skenario tekanan yang dinilai masuk akal oleh Trimegah, yakni jika penjualan saham oleh investor asing meluas hingga mencakup 20-40 persen dari kepemilikan asing di luar konstituen MSCI, valuasi pasar berpotensi turun ke P/E 6,4-6,8 kali dan P/BV 0,99-1,05 kali.
Rentang P/BV tersebut mendekati satu kali nilai buku. “Level yang terakhir tercatat setelah krisis finansial Asia 1997-1998,” tulis analis Trimegah.
Dalam skenario yang sama, imbal hasil dividen pasar diperkirakan meningkat menjadi 10,7-11,3 persen. Namun, angka-angka tersebut merupakan hasil uji tekanan (stress test), bukan proyeksi pasti pergerakan IHSG.
Catatan saja, menurut Trimegah, perbandingan dengan 1998 perlu dicermati karena saat itu nilai buku perbankan merosot, sedangkan bank di Indonesia kini bermodal kuat dan tetap mencetak laba.
Namun, valuasi murah belum menarik pembeli karena arus dana dan keputusan MSCI lebih menentukan.
Sebagian penurunan valuasi mungkin mencerminkan premi risiko yang lebih tinggi jika Indonesia berstatus Standalone.
Tetapi, tekanan jual paksa diperkirakan menjadi penyebab utama penurunan berlebihan dan cenderung berbalik setelah implementasi, sebagaimana terlihat pada kinerja saham negara lain setahun setelah efektif menjadi Standalone.
Trimegah memperkirakan potensi penjualan pasif oleh dana yang mengikuti indeks MSCI mencapai sekitar USD5,4 miliar.
Jika aksi jual itu disertai pelepasan 20-40 persen kepemilikan asing di luar saham-saham MSCI, total arus keluar dapat mencapai USD10-14,6 miliar.
Dengan menggunakan posisi IHSG pada 22 Oktober di level 5.387 sebagai dasar perhitungan, skenario tersebut mengindikasikan potensi penurunan indeks sebesar 20-23 persen, ke kisaran 4.120-4.340.
Meski demikian, tekanan tersebut belum memperhitungkan tambahan pembelian dari investor domestik.
Trimegah menilai, terdapat dua faktor yang dapat membuat skenario tekanan tersebut terlalu pesimistis, yakni masuknya dana dari institusi domestik serta penegakan hukum yang lebih kuat terhadap praktik perdagangan terkoordinasi.
Danantara dan dana pensiun diuji
Dalam risetnya, Trimegah menyoroti potensi realokasi dana pensiun dan komitmen Danantara yang jika digabungkan dapat mencapai Rp138 triliun atau sekitar USD8 miliar.
Nilai tersebut lebih besar dibandingkan estimasi penjualan pasif akibat MSCI yang mencapai USD5,4 miliar.
Jika dana tersebut benar-benar dikerahkan selama periode implementasi perubahan indeks, Trimegah menilai arus dana domestik berpotensi menyerap sebagian besar tekanan penjualan pasif pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Namun, kapasitas penopang tersebut bergantung pada realisasi dan waktu penempatan dana.
Besarnya komitmen belum dengan sendirinya berarti seluruh dana akan langsung masuk ke pasar saham atau terserap pada saham yang menghadapi tekanan jual.
Pergerakan pasar pada pekan sebelumnya memberi gambaran awal mengenai peran saham-saham yang banyak menjadi pilihan investor domestik.
Trimegah mencatat IHSG menguat 4,9 persen ke level 5.439 pada pekan yang berakhir 23 Oktober 2026, setelah sebagian memulihkan penurunan pascapengumuman konsultasi MSCI.
Saham-saham badan usaha milik negara (BUMN) menjadi penopang utama penguatan tersebut. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Telkom Indonesia (TLKM), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) secara bersama-sama menyumbang sekitar separuh kenaikan IHSG pada periode itu.
Sebaliknya, saham Bank Central Asia (BBCA) milik Grup Djarum turun 2,9 persen meskipun saham-saham bank BUMN menguat.
“Perbedaan pergerakan ini cukup menarik: penguatan pasar berpusat pada saham-saham yang diminati institusi domestik, sementara saham berkapitalisasi besar dengan kepemilikan asing tertinggi justru tertinggal. Kondisi ini menjadi indikasi awal bahwa dana domestik mulai masuk untuk menyerap saham yang dilepas investor asing,” tulis Trimegah.
Penegakan hukum juga menentukan
Selain dukungan investor domestik, Trimegah menilai kredibilitas penegakan hukum menjadi faktor penting dalam menentukan arah pasar saham Indonesia di tengah konsultasi MSCI.
Menurut riset tersebut, perbaikan keterbukaan informasi dan penyesuaian indeks saja belum cukup.
MSCI menilai klasifikasi suatu pasar, sehingga bukti pengawasan yang efektif dan penindakan terhadap pihak yang terlibat dalam praktik perdagangan terkoordinasi menjadi bagian penting dari proses penilaian.
Trimegah menyoroti bahwa penindakan yang lebih tegas, termasuk kemungkinan proses pidana, larangan perdagangan, dan pembekuan aset terhadap individu yang bertanggung jawab, dapat meningkatkan peluang Indonesia mempertahankan status pasar berkembang (emerging market).
Jika perbaikan penegakan hukum cukup meyakinkan, tekanan penjualan pasif yang menjadi dasar skenario uji tekanan tersebut berpotensi tidak terjadi.
Sebaliknya, tanpa perkembangan yang berarti, investor asing berpotensi tetap menjual saham ketika harga menguat sehingga membatasi ruang pemulihan pasar.
MSCI dijadwalkan menutup periode masukan konsultasi pada 30 April 2027, dengan keputusan akhir diperkirakan pada akhir Juni 2027. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.









