BNGA Diterpa Rumor Delisting, Simak 27 Saham Bank Free Float di Bawah 15 Persen

BNGA Diterpa Rumor Delisting, Simak 27 Saham Bank Free Float di Bawah 15 Persen

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 23 Oktober 2026 - 12:32
share

IDXChannel – Saham PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) tengah menjadi perhatian setelah muncul kabar mengenai potensi privatisasi atau delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI) oleh induknya, CIMB Group Holdings Bhd.

Namun, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) telah memberikan klarifikasi kepada BEI.

Dalam surat tertanggal 22 Oktober 2026, perseroan menyampaikan bahwa CIMB Group tidak memiliki rencana untuk melakukan privatisasi BNGA dan tidak terdapat keputusan maupun usulan formal terkait potensi privatisasi tersebut.

Meski demikian, isu tersebut berkaitan dengan persoalan yang lebih luas, yakni pemenuhan ketentuan minimum saham free float di BEI.

Berdasarkan data free float yang dihimpun, terdapat 27 saham bank dengan free float di bawah 15 persen. BNGA memiliki free float sebesar 7,50 persen, atau menjadi salah satu bank dengan porsi saham publik terendah dalam daftar tersebut.

Berikut daftar saham bank dengan free float di bawah 15 persen.

PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) sebesar 14,79 persen, PT Bank China Construction Bank Indonesia Tbk (MCOR) 14,63 persen, PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) 13,97 persen, PT Bank JTrust Tbk (BCIC) 13,65 persen, PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) 12,94 persen, dan PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) 12,76 persen.

Selanjutnya, PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) sebesar 12,13 persen, PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) 11,91 persen, PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) 11,85 persen, PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) 11,18 persen, PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS) 10,62 persen, PT Bank Permata Tbk (BNLI) 9,97 persen, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) 9,33 persen, dan PT Bank Mestika Dharma Tbk (BBMD) 9,07 persen.

Kemudian, PT Bank Multiarta Sentosa Tbk (MASB) memiliki free float 8,82 persen, PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) 8,29 persen, PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA) 8,23 persen, PT Bank BTPN Tbk (BTPN) 7,87 persen, PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD) 7,68 persen, PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) 7,67 persen, dan PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS) 7,60 persen.

Sementara itu, PT Bank IBK Indonesia Tbk (AGRS) tercatat memiliki free float 7,55 persen, PT Bank Dinar Indonesia Tbk (DNAR) 7,53 persen, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) 7,53 persen, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) 7,50 persen, PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) 7,34 persen, dan PT Bank QNB Indonesia Tbk (BKSW) 6,67 persen.

Dengan posisi tersebut, BNGA bukan satu-satunya bank yang menghadapi tantangan untuk memenuhi ketentuan free float minimum. Bahkan, terdapat sejumlah bank lain yang memiliki porsi saham publik lebih rendah dibandingkan BNGA.

Dari daftar tersebut, BKSW memiliki free float terendah, yakni 6,67 persen, disusul NOBU sebesar 7,34 persen dan BNGA sebesar 7,50 persen. Sementara itu, BBKP memiliki free float paling tinggi dalam daftar, tetapi masih berada di bawah ambang 15 persen, yakni 14,79 persen.

Ketentuan minimum free float 15 persen sendiri diberlakukan secara bertahap sesuai kondisi emiten.

Berdasarkan data yang digunakan, saham dengan free float di bawah 12,5 persen wajib mencapai 12,5 persen pada 2027. Kelompok tersebut selanjutnya diwajibkan mencapai 15 persen pada 2028.

Sementara itu, saham dengan free float 12,5 persen hingga di bawah 15 persen diwajibkan mencapai 15 persen pada 2027. Untuk emiten dengan kapitalisasi pasar di bawah Rp5 triliun, pemenuhan ketentuan memiliki tenggat hingga 31 Maret 2029.

Dalam klarifikasinya kepada BEI, BNGA menyatakan perseroan dan pemegang saham pengendali telah melakukan kajian terhadap sejumlah opsi untuk memenuhi ketentuan minimum saham free float serta telah melakukan langkah-langkah yang diperlukan.

BNGA juga menegaskan bahwa CIMB Group tidak memiliki rencana untuk melakukan privatisasi perseroan dan tidak terdapat keputusan maupun usulan formal terkait potensi privatisasi.

CIMB Group tetap menyatakan BNGA merupakan bagian integral dari jaringan regionalnya dan berkomitmen memenuhi ketentuan minimum saham free float.

Perseroan menyatakan apabila terdapat keputusan atau informasi material terkait hal tersebut, informasi akan disampaikan kepada OJK, BEI, dan masyarakat sesuai ketentuan yang berlaku.

BNGA juga menyatakan tidak terdapat informasi atau fakta material lain yang belum diungkapkan kepada publik yang dapat mempengaruhi harga saham perseroan.

Sebelumnya, melansir dari Bernama, CIMB Investment Bank Bhd (CIMB IB) dalam risetnya pada Rabu (21/10/) menyebut rumor privatisasi didorong oleh pandangan CIMB bahwa valuasi BNGA masih belum mencerminkan fundamentalnya.

CIMB juga tetap memiliki prospek jangka panjang yang positif terhadap Indonesia.

Menurut CIMB IB, BNGA memiliki sejumlah kekuatan yang menjadi alasan CIMB tetap optimistis terhadap bank tersebut, antara lain bisnis wealth management, perbankan korporasi, konektivitas ASEAN, mass affluent banking, serta perbankan syariah.

Untuk memenuhi ketentuan free float BNGA, CIMB sebelumnya mempertimbangkan beberapa opsi, mulai dari menempatkan saham kepada investor strategis pada valuasi yang sesuai, melakukan re-IPO, hingga melakukan privatisasi alias go private.

Namun, CIMB IB menilai re-IPO tampaknya sulit dilakukan dalam kondisi pasar Indonesia saat ini. Sementara itu, privatisasi dinilai menjadi opsi yang lebih strategis dan kredibel.

“CIMB mencatat terdapat berbagai opsi delisting yang tersedia, termasuk skema yang memungkinkan pemegang saham minoritas tetap memiliki kepemilikan setelah delisting, dengan mengacu pada pengaturan kepemilikan minoritas yang pernah diterapkan di CIMB Thai dan CIMB Bank Malaysia sebagai preseden,” kata CIMB IB.

CIMB juga tetap mempertimbangkan kemampuan BNGA untuk menyetorkan dividen kepada induk usaha sebagai salah satu faktor penting dalam menentukan langkah strategis terhadap bank tersebut.

Dari sisi permodalan, CIMB menilai BNGA memiliki ruang untuk mengoptimalkan modal.

Rasio common equity tier 1 (CET1) BNGA mencapai 23 persen, sehingga terdapat potensi penurunan rasio menuju sekitar 20 persen, meski belum ada target resmi yang ditetapkan.

Sementara itu, MBSB Investment Bank Bhd memperkirakan CIMB saat ini menguasai 92,5 persen saham BNGA.

Dengan asumsi privatisasi dilakukan pada harga Rp1.550 per saham, nilai transaksi untuk membeli saham yang belum dimiliki CIMB diperkirakan mencapai Rp2,95 triliun atau sekitar 670 juta ringgit Malaysia.

Jika menggunakan premi 30 persen terhadap harga tersebut, nilai pembelian diperkirakan meningkat menjadi Rp3,84 triliun atau sekitar 871 juta ringgit Malaysia.

MBSB menilai CIMB kemungkinan akan mengakumulasi saham BNGA secara bertahap untuk menjaga penggunaan modal tetap efisien. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik