DEWA Genjot Operasi, Laba 2027 Diproyeksi Tembus Rp1,05 Triliun, Bagaimana Sahamnya?
IDXChannel – PT Darma Henwa Tbk (DEWA) diproyeksikan mencatat pertumbuhan laba yang signifikan pada 2027 seiring peningkatan kapasitas operasional dan tambahan kontrak tambang.
Volume pengupasan lapisan tanah atau overburden (OB) diperkirakan mencapai sekitar 200 juta bank cubic meter (BCM), naik 33,3 persen dibandingkan proyeksi 2026.
Dalam riset bertanggal 21 Oktober 2026, analis UOB Kay Hian Benyamin Mikael dan Alden Gabriel Lam memproyeksikan laba bersih inti DEWA pada 2027 mencapai Rp1,05 triliun, tumbuh 101,4 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan volume dari operasi internal serta kontribusi kontrak baru, terutama di Sebuku Sejaka Coal (SSC).
Kinerja operasional DEWA juga mulai mencerminkan peningkatan kapasitas setelah perseroan mengambil alih operasi Bengalon pada Mei 2026.
Kuartal III-2026 menjadi kuartal penuh pertama dengan seluruh operasi berjalan secara in-house.
Kondisi tersebut mendorong margin bruto, operasional, dan EBITDA DEWA masing-masing mencapai 22,3 persen, 16 persen, dan 33 persen pada kuartal III-2026.
Kinerja turut terbantu oleh curah hujan yang lebih rendah serta efisiensi penggunaan bahan bakar.
Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, laba bersih DEWA melonjak 114,5 persen secara tahunan menjadi Rp513 miliar.
Angka tersebut termasuk keuntungan nilai wajar sebesar Rp229 miliar yang dibukukan pada kuartal II-2026.
Sementara itu, EBITDA meningkat 30,7 persen menjadi Rp1,56 triliun dengan pendapatan yang tumbuh 10 persen.
Pada kuartal III-2026 saja, laba bersih mencapai Rp159 miliar, dengan laba inti tumbuh 49 persen secara kuartalan.
Kinerja DEWA diperkirakan tetap solid pada kuartal IV-2026, ditopang kontribusi SSC dan operasional in-house yang telah berjalan penuh. Namun, curah hujan musiman masih menjadi salah satu risiko terhadap pencapaian volume.
Selain memperkuat operasi internal, DEWA mulai memperluas sumber pendapatan di luar grup PT Bumi Resources Tbk (BUMI). SSC menjadi kontrak eksternal besar pertama DEWA setelah perseroan menandatangani kontrak senilai USD1,3 miliar dengan jangka waktu lima tahun pada Juni 2026.
Pengiriman batu bara dari proyek tersebut telah dimulai pada Oktober 2026.
Untuk tahun ini, DEWA menargetkan produksi batu bara SSC sebesar 0,8 juta-0,9 juta ton dan pengupasan OB sebesar 8 juta-10 juta BCM.
Volume tersebut berpotensi meningkat menjadi sekitar 3 juta ton batu bara dan 30 juta-35 juta BCM OB pada 2027, dengan catatan terdapat tambahan kuota produksi.
Jika beroperasi pada kapasitas penuh, SSC berpotensi menghasilkan pendapatan sekitar Rp4 triliun per tahun.
SSC juga berpotensi menambah sekitar 55 juta BCM volume OB tahunan bagi DEWA dengan tarif sekitar 30 persen lebih tinggi dibandingkan tingkat tarif yang biasanya diperoleh perseroan.
Tambahan volume juga berpotensi berasal dari kontrak baru di Sumatra Selatan.
DEWA saat ini berada dalam tahap akhir penawaran untuk empat paket pekerjaan dengan nilai gabungan sekitar Rp17 triliun. Pemenang tender diperkirakan diumumkan pada November-Desember 2026.
Jika DEWA memenangkan satu atau dua paket tersebut, volume OB berpotensi bertambah sekitar 30 juta BCM. Dengan tambahan dari SSC, volume OB DEWA pada 2027 diperkirakan dapat mencapai sekitar 200 juta BCM.
Potensi tambahan juga datang dari kontrak penambangan nikel di Halmahera Timur dengan volume sekitar 72 juta BCM yang berpotensi dimulai pada kuartal I 2027, meski masih bergantung pada persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Untuk 2026, DEWA memperkirakan volume OB sekitar 150 juta BCM, terdiri dari 139 juta BCM dari tambang KPC dan Arutmin serta tambahan 8 juta-10 juta BCM dari SSC. Total material yang dipindahkan diperkirakan lebih dari 160 juta BCM, dibandingkan 148 juta BCM pada 2025.
Kapasitas OB bulanan DEWA juga terus meningkat. Pada September 2026, kapasitas mencapai 14 juta BCM, naik dari 11,9 juta BCM pada Mei 2026 dan 6,6 juta BCM pada awal 2024. Sementara kapasitas batu bara telah mencapai 1,7 juta ton per bulan.
Manajemen memperkirakan kapasitas tersebut masih akan meningkat hingga Desember 2026 seiring dengan peningkatan aktivitas SSC, meskipun faktor cuaca pada kuartal IV menjadi risiko yang perlu diperhatikan.
Di sisi lain, DEWA masih mengejar peluang tambahan di KPC dengan dukungan armada baru yang lebih hemat bahan bakar. Peluang tersebut dapat memberikan tambahan volume hingga 150 juta BCM dalam jangka panjang.
Target Harga Diturunkan
Meski prospek operasional dinilai semakin kuat, Benyamin dan Alden menurunkan target harga DEWA menjadi Rp780 dari sebelumnya Rp1.260. Riset tersebut tetap mempertahankan rekomendasi beli.
Penurunan target harga terutama disebabkan oleh kenaikan asumsi weighted average cost of capital (WACC) menjadi 10,6 persen dari 8,3 persen serta proyeksi laba yang lebih konservatif akibat biaya pendanaan dan operasional yang lebih tinggi.
Proyeksi laba bersih DEWA untuk 2026 dan 2027 masing-masing dipangkas 21 persen dan 13,5 persen. Namun, estimasi 2026 tetap memasukkan keuntungan nilai wajar satu kali atas investasi pada entitas asosiasi yang dibukukan pada kuartal II-2026.
UOB menilai DEWA masih memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang seiring peningkatan skala operasi.
Potensi dari segmen tembaga juga dinilai dapat menjadi tambahan nilai, meski belum dimasukkan dalam proyeksi dasar.
Sejumlah katalis yang perlu diperhatikan antara lain keberhasilan DEWA memenangkan tender tambahan pekerjaan OB serta potensi pengumuman sumber daya Gayo Mineral pada akhir 2027.
Risiko utama terhadap prospek DEWA mencakup penurunan margin, cuaca buruk, keterlambatan eksekusi proyek, serta kenaikan biaya pendanaan. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.










