Blibli (BELI) Perkuat Strategi Omnichannel, Ekspansi Toko Fisik Jadi Andalan Pertumbuhan
IDXChannel - PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli memperkuat strategi omnichannel dengan mengintegrasikan layanan digital dan jaringan toko fisik yang tersebar di seluruh Indonesia untuk mendorong pertumbuhan usaha.
Saat ini perseroan tercatat memiliki 347 toko elektronik konsumen, 24 toko elektronik rumah tangga, 1 toko fesyen dan olahraga, 60 outlet supermarket, dan 39 home & living experience centers.
Direktur Utama BELI, Kusumo Martanto mengatakan, strategi omnichannel menjadi salah satu prioritas utama perusahaan untuk memperluas jangkauan konsumen sekaligus menghadirkan pengalaman berbelanja yang lebih terintegrasi antara kanal online dan offline.
Menurut dia, kehadiran toko fisik tidak dimaksudkan untuk menggantikan bisnis online, melainkan melengkapi layanan digital yang telah dikembangkan perseroan.
Selain itu, untuk mendukung jangkauan omnichannel, layanan blibli instore sudah berada di 6,6 ribu lokasi, sementara layanan Click & Collect (C&C) terdapat di 7 ribu lebih lokasi.
"Fokus kami bukan semata-mata pada pertumbuhan bisnis online atau penambahan jumlah toko offline, namun bagaimana keseluruhan ekosistem omnichannel dapat mendorong pertumbuhan berkelanjutan dan meningkatkan profitabilitas perusahaan secara keseluruhan," ujar Kusumo dalam public expose secara virtual, Rabu (14/10/2026).
Perseroan juga memperluas jangkauan omnichannel pada kategori groceries dengan mengintegrasikan kapabilitas digital Blibli dan jaringan supermarket Ranch Market. Jaringan tersebut memiliki 60 gerai yang mencakup sejumlah format, antara lain Ranch Market, Farmers Market, The Gourmet, Day to Day, dan Pasarina.
"Strategi ini memungkinkan kami melayani kebutuhan dan segemen konsumen yang semakin beragam," tuturnya.
Sementara itu, untuk kategori home and living, Blibli memanfaatkan jaringan 39 Home and Living Experience Center yang dioperasikan oleh Dekoruma. Jaringan ini melayani konsumen yang membutuhkan furnitur sekaligus layanan desain interior untuk renovasi maupun penataan rumah.
"Jadi secara keseluruhan, ekspansi omnichannel kami bukan hanya sekedar menambah jumlah toko yang ada. Kami bangun adalah ekosistem yang saling terhubung antara online dan offline, di mana setiap titik interaksi harus bisa memberikan nilai tambah pada konsumen, sekaligus perkuat engagement dengan ekosistem blibli tiket," tuturnya.
Menurutnya dengan pendekatan bisnis yang mengintergrasikan layanan transaksi online dan offline store akan sangat relevan untuk pasar Indonesia dengan mengombinasikan teknologi digital dengan kerjasama brand.
"Kami akan terus menjalankan strategi ini secara selektif dan disiplin dengan fokus pada lokasi, kategori, dan format yang memiliki atractive unit economics serta memperkuat difrensiasi kami," kata dia.
Penguatan strategi omnichannel tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan kinerja keuangan Blibli. Pada semester I-2026, perseroan mencatatkan pendapatan neto sebesar Rp14,8 triliun, tumbuh 55 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi aktivitas usaha, total processing value (TPV) mencapai Rp45,1 triliun, meningkat 12 persen dibandingkan Rp40,2 triliun pada semester I-2025. Kontribusi ini didatangkan dari transaksi melalui ritel 3P sebesar 58 persen, institusi 22 persen, toko fisik 11 persen, dan ritel 1P 9 persen.
Perseroan juga mencatatkan pertumbuhan laba bruto konsolidasian sebesar 31 persen secara tahunan menjadi Rp2,3 triliun. Sementara itu, gross profit before discount (GPBD) meningkat 17 persen menjadi Rp4,1 triliun dan take rate naik dari 8,6 persen menjadi 9 persen.
Manajemen menyatakan, perbaikan kinerja tidak hanya ditopang pertumbuhan pendapatan, tetapi juga peningkatan margin dan pengelolaan biaya yang lebih efisien.
Ke depan, Blibli akan terus mengembangkan ekosistem omnichannel dengan mengarahkan investasi pada kategori dan segmen yang memberikan tingkat pengembalian lebih baik. Perseroan juga mengandalkan peningkatan produktivitas toko serta momentum belanja pada semester II-2026 untuk menjaga pertumbuhan usaha.
Meski pencapaian semester pertama melampaui target internal awal tahun, manajemen belum menjadikan kinerja tersebut sebagai dasar untuk merevisi target 2026. Perseroan masih mempertimbangkan dinamika makroekonomi, kondisi pasar, serta peluang dan tantangan bisnis pada paruh kedua tahun ini.
(kunthi fahmar sandy)










