Gandeng Telkom University, AirNav Manfaatkan AI Atur Sif Kerja hingga Penerbitan NOTAM
IDXChannel - AirNav Indonesia mengembangkan teknologi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan efisiensi operasional navigasi penerbangan, mulai dari pengaturan jadwal kerja personel Air Traffic Control (ATC) hingga mempercepat pembuatan Notice to Airmen (NOTAM).
Direktur Teknik AirNav Indonesia, Zainal Arifin Harahap mengatakan, teknologi AI dikembangkan untuk membantu mempercepat pekerjaan tanpa menggantikan peran manusia dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan keselamatan penerbangan.
"Posisi AI bukan untuk menggantikan manusia dalam pengambilan keputusan, khususnya yang berkaitan langsung dengan keselamatan penerbangan," ujar Zainal dalam rangkaian Summit on Advancement in Technology, Research, Industry and Academia (SATRIA) 2026 di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Salah satu inovasi yang dikembangkan bersama Telkom University adalah NOTAM AI Generator. Dengan bantuan AI, proses pembuatan NOTAM dapat dilakukan sekitar satu menit sebelum hasilnya diverifikasi oleh validator.
Selain itu, AirNav mengembangkan aplikasi AI untuk mengotomatisasi penjadwalan personel ATC. Sistem ini dirancang untuk membantu mengatur jadwal kerja dengan mempertimbangkan ketentuan personel tidak boleh bekerja nonstop selama dua jam dan jeda antarsif minimal 15 jam.
Menurut Zainal, pengaturan jadwal secara manual membutuhkan waktu, terutama dengan banyaknya personel yang harus dikelola. Karena itu, AI diharapkan membantu proses penjadwalan menjadi lebih efisien.
Kerja sama AirNav dan Telkom University merupakan tindak lanjut nota kesepahaman pada 2024. Kedua pihak kembali memperkuat kolaborasi melalui penandatanganan perjanjian kerja sama pengembangan teknologi AI dan keamanan siber pada Kamis (8/10/2026).
Wakil Rektor IV Telkom University Bidang Riset, Inovasi dan Kerja Sama Angga Rusdinar menjelaskan, hasil penelitian tidak langsung diterapkan dalam operasional AirNav. Setiap pengembangan dapat melalui tahapan pengujian, evaluasi, dan validasi sesuai kebutuhan serta kriteria yang disepakati.
"AirNav Indonesia memiliki kebutuhan nyata. Bagi kami, itu penting karena riset yang baik harus punya persoalan yang jelas untuk diselesaikan. Karena itu, kerja sama ini bukan hanya untuk menghasilkan penelitian, tetapi juga bagaimana hasilnya bisa digunakan," tambahnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Faudzan Adziman mengapresiasi kolaborasi tersebut. Dia menekankan pentingnya riset yang berangkat dari persoalan nyata industri agar menghasilkan solusi yang bermanfaat sekaligus memperkuat daya saing teknologi nasional.
"Jadi, memahami persoalan yang dihadapi industri sangat penting, agar riset yang dikembangkan benar-benar menjawab kebutuhan," kata Faudzan.
(Rahmat Fiansyah)








