Ekspor RI Tembus USD26,61 Miliar pada Agustus 2026, Ini Kata Mendag

Ekspor RI Tembus USD26,61 Miliar pada Agustus 2026, Ini Kata Mendag

Terkini | idxchannel | Sabtu, 3 Oktober 2026 - 23:44
share

IDXChannel - Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan laju ekspor nasional masih menunjukkan ketahanan yang solid di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Ketahanan tersebut tampak dari realisasi ekspor Agustus 2026 yang menembus USD26,61 miliar, naik 6,72 persen ketimbang capaian Agustus 2025. Lonjakan pengiriman barang ke luar negeri pada bulan kedelapan itu didorong oleh sektor nonmigas senilai USD25,62 miliar, dengan kontribusi industri pengolahan atau manufaktur yang melesat 12,48 persen.

“Capaian ekspor Indonesia pada Agustus 2026 yang mencapai USD26,61 miliar menunjukkan fundamental perdagangan Indonesia tetap memiliki daya tahan yang kuat. Di tengah dinamika ekonomi global, produk-produk Indonesia tetap diminati dan mampu bersaing di pasar internasional. Pertumbuhan ekspor ini menjadi sinyal positif bahwa aktivitas perdagangan Indonesia terus berada dalam tren ekspansif,” ujar Budi dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (3/10/2026).

Budi merinci, akumulasi nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2026 telah menyentuh angka USD193,64 miliar, mencatatkan kenaikan 4,74 persen secara tahunan. 

Selama kurun waktu delapan bulan tersebut, industri pengolahan tampil sebagai motor penggerak utama lewat torehan ekspor sebesar USD159,55 miliar alias terkerek 7,87 persen. 

Ia menegaskan, laju kencang ekspor sektor manufaktur ini membuktikan keberhasilan pergeseran struktur ekonomi nasional menuju produksi komoditas bernilai tambah tinggi.

Kata Budi, peningkatan signifikan pada sektor manufaktur menunjukkan keberhasilan transformasi struktural yang konsisten dijalankan. Indonesia kini mulai bertransformasi dari eksportir bahan mentah ke produsen produk olahan industri bernilai tambah tinggi. 

"Hilirisasi ini terbukti menjadi katalis utama yang melipatgandakan nilai ekspor, memperkuat daya saing industri nasional, serta menciptakan dampak berganda bagi penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi domestik,” ujar Budi.

Peningkatan aktivitas ekspor ini berdampak langsung pada neraca perdagangan Indonesia yang kembali membukukan surplus senilai USD3,55 miliar pada Agustus 2026. Surplus tersebut didorong oleh performa sektor nonmigas yang menyumbang kelebihan hingga USD6,09 miliar. 

Adapun deretan komoditas andalan penopang ekspor nonmigas pada Agustus mencakup besi dan baja, minyak sawit mentah beserta produk turunannya, dan batu bara, dengan pangsa pasar terbesar mengalir ke China, Amerika Serikat (AS), serta India.

Secara kumulatif, neraca perdagangan sepanjang Januari sampai Agustus 2026

mencetak surplus sebesar USD7,25 miliar, di mana surplus nonmigas menyumbang angka signifikan hingga USD28,54 miliar. Sepanjang rentang waktu tersebut, AS, India, dan Filipina tercatat sebagai tiga negara mitra yang memberikan sumbangan surplus nonmigas terbesar bagi Indonesia.

Untuk mempertahankan tren surplus tersebut, Budi memandang pentingnya langkah perluasan akses pasar berbarengan dengan penguatan daya saing produk lokal. 

“Surplus perdagangan yang terus terjaga menjadi modal penting bagi perekonomian nasional. Kementerian Perdagangan akan terus mengoptimalkan berbagai perjanjian perdagangan untuk memperluas akses pasar dan mengurangi hambatan perdagangan, sehingga produk-produk Indonesia makin berpeluang untuk masuk dan bersaing di

pasar global,” imbuh Budi.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menambahkan bahwa torehan positif hingga Agustus 2026 ini harus dimanfaatkan sebagai pijakan untuk membenahi ekosistem ekspor dari hulu sampai ke hilir.

Kemendag juga kian gencar menggarap diversifikasi pasar tujuan ekspor ke kawasan nontradisional yang menjanjikan, seperti Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin. Strategi penetrasi pasar ini ditopang oleh optimalisasi peran 46 perwakilan perdagangan (perwadag) RI yang tersebar di 33 negara. 

Delegasi dagang tersebut bertugas memetakan ceruk pasar, memfasilitasi pertemuan pelaku usaha dengan calon mitra, hingga mengawal pemenuhan sertifikasi mutu produk dan penyelesaian transaksi dagang.

“Kami akan terus mendorong perwadag RI untuk aktif membuka peluang pasar, mempertemukan eksportir dengan calon pembeli melalui penjajakan bisnis (business matching), dan memberikan pendampingan hingga transaksi terealisasi. Dengan langkah ini, kami optimistis kinerja ekspor nasional dapat terus tumbuh hingga akhir 2026,” kata Puntodewi. (Wahyu Dwi Anggoro)

Topik Menarik