Harga Minyak Menguat di Tengah Ketidakpastian Diplomasi Iran-AS, Brent Kembali Tembus USD100
IDXChannel - Harga minyak mentah kembali menguat pada perdagangan Kamis (1/10/2026), di tengah ketidakpastian diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Melansir Investing, Brent crude futures untuk kontrak Desember naik 2,1 persen menjadi USD100,12 per barel pada pukul 08.43 ET atau 12.43 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat 1,2 persen menjadi USD91,48 per barel.
Kontrak Brent bulan terdekat sebelumnya yang berakhir pada Rabu (30/9/2026) ditutup di level USD103,50 per barel.
Sepanjang September 2026, Brent tercatat menguat sekitar 14 persen, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Juli. Sementara itu, WTI naik sekitar 5 persen pada periode yang sama.
Analis Senior Trade Nation David Morrison mengatakan, kenaikan harga minyak terjadi secara tiba-tiba saat perdagangan Eropa dibuka. Menurutnya, salah satu pemicu kemungkinan berkaitan dengan pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang menyebut Ukraina kembali menyerang fasilitas minyak Rusia.
Morrison mengatakan Ukraina dalam beberapa bulan terakhir telah menargetkan infrastruktur energi dan fasilitas pengolahan minyak Rusia. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan sejumlah produk olahan minyak, termasuk diesel, mengetat.
Di sisi lain, pasar mendapatkan sinyal positif dari pemulihan sebagian aliran minyak di kawasan Teluk. Data Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah Timur Tengah mencapai 16,328 juta barel per hari pada September 2026, menjadi level tertinggi sejak konflik dimulai pada Februari.
Arab Saudi juga kembali melakukan pemuatan tanker dari pelabuhan utama Laut Merah, Yanbu, setelah kerajaan tersebut mengoperasikan kembali pipa timur-barat yang membentang melintasi wilayah negara tersebut.
Namun, aliran minyak dari kawasan tersebut masih berada di bawah level sebelum konflik. Ekspor minyak Timur Tengah pada September tercatat sekitar 3,2 juta barel per hari lebih rendah dibandingkan Februari.
Selain pasokan, perkembangan diplomatik antara Iran dan AS turut menjadi perhatian pasar. Iran mengatakan telah menerima respons dari AS terkait proposal terbaru untuk memulihkan gencatan senjata.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menolak proposal yang mengaitkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan Iran. Perkembangan tersebut membuat ketidakpastian terkait kelancaran arus minyak dari Timur Tengah masih tinggi.
Dari AS, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah domestik naik 922.000 barel pada pekan lalu. Angka tersebut berlawanan dengan ekspektasi analis yang memperkirakan persediaan turun 700.000 barel.
Namun, persediaan produk olahan justru menunjukkan kondisi pasar yang lebih ketat. Stok bensin turun 1,7 juta barel, sementara stok produk distilat yang mencakup diesel dan minyak pemanas berkurang 2,3 juta barel.
Kondisi stok diesel menjadi perhatian karena harga diesel AS telah mencapai rekor USD6,53 per galon pada pekan lalu, sementara persediaannya berada pada level yang secara historis rendah.
(DESI ANGRIANI)









