Hilirisasi, Jalan Mengubah Sumber Daya Menjadi Kekuatan Industri Nasional

Hilirisasi, Jalan Mengubah Sumber Daya Menjadi Kekuatan Industri Nasional

Terkini | idxchannel | Selasa, 29 September 2026 - 15:44
share

IDXChannel – Hilirisasi mineral menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat ekonomi nasional. Melalui proses pengolahan di dalam negeri, sumber daya alam tidak lagi berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi diubah menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi dan menjadi bagian dari rantai industri yang lebih panjang.

Perubahan tersebut pada akhirnya bukan sekadar soal meningkatkan nilai jual hasil tambang. Hilirisasi juga membuka ruang bagi tumbuhnya manufaktur, investasi, lapangan kerja, serta kegiatan ekonomi baru di daerah penghasil sumber daya. Dengan demikian, hilirisasi berpotensi mengubah struktur ekonomi Indonesia dari yang tadinya bertumpu pada sektor ekstraktif menuju ekonomi yang semakin ditopang industri pengolahan.

Peluang itu didukung oleh besarnya sumber daya mineral Indonesia. Untuk nikel, misalnya, Indonesia memiliki sekitar 5,3 miliar ton cadangan atau sekitar 42 persen dari cadangan dunia. Indonesia juga tercatat memiliki cadangan timah terbesar di dunia, dengan kontribusi sekitar 34 persen terhadap cadangan global pada 2024 berdasarkan data Badan Geologi. Posisi tersebut memberikan modal penting bagi Indonesia untuk membangun rantai industri berbasis mineral di dalam negeri.

Nikel dan timah juga memiliki keterkaitan dengan berbagai industri manufaktur, termasuk kendaraan listrik dan sektor strategis lainnya. Karena itu, pengembangan industri pengolahan mineral tidak hanya berkaitan dengan komoditas pertambangan, tetapi juga dengan kemampuan Indonesia mengambil posisi yang lebih besar dalam rantai pasok industri global. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan, realisasi investasi hilirisasi mineral pada semester I-2026 mencapai Rp206,5 triliun.

Dampak hilirisasi juga terlihat dari bergesernya pusat-pusat aktivitas ekonomi di daerah penghasil sumber daya. Masuknya investasi dan pembangunan fasilitas pengolahan mendorong kegiatan ekonomi yang sebelumnya lebih banyak bertumpu pada pertambangan atau sektor primer berkembang ke industri pengolahan dan kegiatan pendukung lainnya. Kementerian ESDM mencatat, perkembangan hilirisasi kini semakin menyebar ke luar Jawa, seiring masuknya investasi ke berbagai daerah penghasil mineral.

Contoh perubahan tersebut terlihat di Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, lebih dari 75 persen struktur ekonomi Morowali kini berasal dari sektor industri. Kondisi itu berbeda dengan sebelumnya ketika lebih dari separuh struktur ekonominya masih berasal dari sektor primer seperti pertambangan dan pertanian.

Menurut Faisal, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi tidak berhenti pada peningkatan nilai komoditas setelah ditambang. Kehadiran industri pengolahan dapat membentuk basis kegiatan ekonomi baru sekaligus mengubah lanskap perekonomian daerah penghasil. Rantai nilai yang terbentuk juga dapat berkembang ke sektor lain, mulai dari energi dan manufaktur hingga jasa pendukung industri.

Dalam ekosistem tersebut, MIND ID melalui perusahaan-perusahaan anggota holding-nya turut mendorong pengembangan rantai nilai mineral dan batu bara. Anggota holding seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau ANTAM, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Freeport Indonesia, Inalum, PT Timah Tbk (TINS), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menjalankan bisnis sesuai core-nya masing-masing, sekaligus mengambil bagian dalam pengembangan industri hilir.

Salah satu contohnya terlihat pada pengembangan nikel dan turunannya oleh Vale Indonesia melalui sejumlah proyek di Bahodopi, Pomalaa, dan Sorowako. Sementara itu, ANTAM dan Inalum menjadi bagian dari konsorsium BUMN yang mengelola Indonesia Battery Corporation (IBC), yang mengembangkan bisnis baterai tidak hanya untuk kendaraan listrik tetapi juga untuk kebutuhan penyimpanan energi, termasuk yang berkaitan dengan pertumbuhan pusat data.

Di sisi lain, PT Bukit Asam mengembangkan sejumlah proyek hilirisasi di luar bisnis batu bara, antara lain coal to methanol dan DME (dimethyl ether), coal to SNG (synthetic natural gas), serta pengembangan kalium humat.

Perkembangan industri hilir juga memberikan dampak pada kinerja sejumlah perusahaan pertambangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada semester I-2026, misalnya, PT Bukit Asam Tbk membukukan laba Rp2,65 triliun, sedangkan PT Timah mencatat laba bersih Rp2,71 triliun.

ANTAM dan Vale Indonesia masing-masing membukukan laba Rp6,91 triliun dan Rp1,87 triliun. Pergerakan saham emiten-emiten tersebut menunjukkan respons pasar yang beragam, sehingga kinerja pasar tetap dipengaruhi pula oleh harga komoditas dan faktor perusahaan masing-masing.

Ke depan, tantangan hilirisasi bukan hanya memastikan lebih banyak mineral diolah di dalam negeri, tetapi juga memperluas kedalaman industri dan menciptakan nilai tambah yang semakin tinggi. Keterhubungan antara pertambangan, manufaktur, energi, teknologi, hingga industri pendukung menjadi penting agar hilirisasi mampu membangun ekosistem industri yang kuat dan berkelanjutan.

Pada titik ini, hilirisasi dapat menjadi lebih dari sekadar strategi pengolahan sumber daya alam. Langkah strategis ini akan menjadi bagian dari proses industrialisasi yang memperkuat kemandirian dan kedaulatan ekonomi, memperluas basis produksi nasional, serta memastikan kekayaan sumber daya Indonesia memberikan nilai ekonomi yang semakin besar bagi masyarakat dan negara secara berkelanjutan.

(Febrina Ratna Iskana)

Topik Menarik