BTPN Syariah (BTPS) Siapkan Buyback Rp1 Triliun, Perkuat Likuiditas dan Fundamental Saham
IDXChannel - PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) berencana melakoni aksi korporasi pembelian kembali (buyback) saham senilai maksimal Rp1 triliun demi mendongkrak likuiditas perdagangan di bursa serta memastikan pergerakan harga saham mencerminkan nilai fundamental perseroan.
Alokasi dana tersebut disiapkan untuk menyerap hingga 10 persen dari total jumlah saham yang beredar di publik.
Manajemen emiten perbankan syariah tersebut akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada pertengahan Oktober mendatang.
"Sebagai upaya untuk meningkatkan likuiditas saham sekaligus memastikan bahwa harga saham dapat mencerminkan nilai fundamental bank, BTPN Syariah berencana melakukan buyback saham sebesar 10 persen dengan alokasi biaya Rp1 triliun termasuk biaya terkait," ujar Direktur PT Bank BTPN Syariah Tbk Fachmy Achmad dalam siaran paparan publik di Jakarta, Senin (7/9/2026).
“Sesuai keterbukaan informasi, rencana ini akan dimintakan persetujuan pemegang saham pada RUPS Luar Biasa pada 13 Oktober 2026,” tambahnya.
Di samping memperkuat posisi saham di pasar modal, perseroan terus memperkokoh model bisnis pembiayaan kelompok atau group financing dan pendampingan intensif bagi nasabah segmen mass market. BTPN Syariah juga memperluas diversifikasi pertumbuhan melalui fasilitas pembiayaan individu beragunan lunak yang menyasar pelaku usaha low-micro.
"Kami memperkuat pembiayaan kelompok melalui mitigasi risiko dan digitalisasi proses bisnis, sembari mengembangkan pembiayaan individu bagi nasabah ETB maupun NTB dengan outstanding mencapai Rp59,7 miliar untuk 4.398 nasabah per Juni 2026. Seluruh langkah ini berlandaskan prinsip prudent banking dan tata kelola yang baik demi menunjang pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan," kata Fachmy.
Untuk memperluas sumber pendapatan berbasis komisi (fee-based income), bank meluncurkan rangkaian produk pendanaan syariah seperti distribusi sukuk ritel, bancassurance, dan Cash Waqf Linked Deposit (CWLD).
Pemanfaatan likuiditas berlebih juga diarahkan pada penyaluran pembiayaan korporasi berjangka pendek ke lembaga keuangan non-bank melalui sinergi strategis bersama bank induk, PT Bank SMBC Indonesia Tbk (SMBC).
"Layanan pendanaan diperkuat dengan sukuk ritel, bancassurance syariah, dan CWLD, di samping penyaluran pembiayaan korporasi ke industri keuangan non-bank yang bersinergi dengan bank induk. Melalui berbagai strategi ini, kami memiliki keyakinan peningkatan laba bersih setelah pajak (NPAT) di 2026 akan mencapai pertumbuhan di kisaran mid-double digit," paparnya.
Solidnya fundamental perbankan tecermin langsung dari torehan kinerja keuangan perseroan pada paruh pertama tahun ini yang mencatatkan ekspansi aset dan kenaikan laba bersih secara konsisten. Kualitas pembiayaan yang dinilai membaik turut menekan rasio kerugian pembiayaan serta menjaga ketahanan modal pada level yang sangat tebal.
"Pada semester I-2026, total aset kami tumbuh 8 persen menjadi Rp23,3 triliun dan pembiayaan gross naik 9 persen mencapai Rp11 triliun dengan cadangan kerugian turun menjadi Rp869 miliar. Laba bersih tercatat Rp655 miliar, ditopang aset likuid Rp11,9 triliun, DPK Rp12,2 triliun, ekuitas Rp10,3 triliun, serta penurunan net financing loss ke 5,1 persen dengan ROA 7,2 persen dan CAR terjaga kokoh di 58,7 persen," urai Achmad. (Febrina Ratna Iskana)










