Harga Minyak Dunia Terkoreksi, Brent Bertahan di Level USD94
IDXChannel - Harga minyak mentah terkoreksi tipis pada perdagangan Rabu (2/9/2026), setelah melonjak hampir 5 persen pada sesi sebelumnya akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Melansir Investing, harga minyak Brent untuk pengiriman November turun 0,2 persen menjadi USD94,48 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 0,8 persen menjadi USD89,49 per barel.
Sebelumnya, harga Brent sempat menyentuh level USD97,04 per barel. Kedua acuan harga minyak tersebut juga mencatat kenaikan hampir 5 persen pada perdagangan sebelumnya dan mencapai level tertinggi dalam sekitar lima pekan.
Kenaikan harga minyak dipicu eskalasi konflik antara AS dan Iran. Di mana AS melancarkan serangkaian serangan udara baru yang kemudian dibalas Iran melalui serangan rudal dan drone terhadap pasukan AS yang berada di Yordania dan Bahrain.
Eskalasi tersebut menjadi salah satu pertukaran serangan paling serius antara kedua negara dalam beberapa pekan terakhir.
Meningkatnya ketegangan memicu kekhawatiran konflik akan semakin membatasi pergerakan kapal tanker melalui Selat Hormuz dan memperparah gangguan pasokan minyak yang telah terjadi.
Risiko ini semakin meningkat setelah dua kapal supertanker yang mengangkut minyak mentah Arab Saudi terkena proyektil yang belum teridentifikasi saat melintas di Selat Hormuz pada Senin (31/8/2026). Masing-masing kapal diketahui telah memuat sekitar 2 juta barel minyak mentah dari terminal Juaymah, Arab Saudi.
Analis ING menilai, aliran minyak masih dapat berlangsung melalui Selat Hormuz meski terjadi kebuntuan antara AS dan Iran. Namun, peningkatan ketegangan berpotensi meningkatkan risiko terhadap pelayaran di jalur strategis tersebut.
"Kami telah melihat aliran minyak melalui Selat Hormuz tetap berlangsung meski terjadi kebuntuan antara AS dan Iran, tetapi meningkatnya ketegangan jelas membuat pelayaran semakin berisiko," tulis analis ING dalam catatannya.
Menteri Energi AS Chris Wright menyebut sekitar 17 juta barel minyak mengalir melalui Selat Hormuz pada Senin (31/8/2026). Namun, analis menilai data pelacakan kapal menunjukkan volume yang lebih rendah sehingga rata-rata aliran dalam jangka panjang dinilai lebih dapat diandalkan untuk mengukur kondisi pasokan.
Di sisi lain, ekspor minyak mentah Iran juga mengalami penurunan tajam. Reuters melaporkan volume pemuatan minyak mentah Iran turun menjadi sekitar 220.000-255.000 barel per hari pada Agustus 2026, dari sekitar 2 juta barel per hari pada Maret.
Gangguan pasokan juga terjadi pada produk olahan minyak. ING memperkirakan margin produk middle distillate, seperti diesel, akan tetap tinggi dan volatil di tengah gangguan ekspor dari Timur Tengah dan Rusia serta belum adanya tanda-tanda pemulihan dalam waktu dekat.
"Given disruptions to Middle East and Russian diesel exports, and with little sign of an imminent recovery, middle distillate cracks are likely to remain highly elevated and volatile, particularly as we move towards seasonally stronger demand," tulis analis ING.
Sementara itu, sentimen positif terhadap harga minyak turut datang dari penurunan stok minyak mentah AS.
Data American Petroleum Institute (API) yang dirilis pada Selasa malam menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 2,6 juta barel dalam pekan yang berakhir 28 Agustus 2026. Penurunan tersebut berbanding terbalik dengan kenaikan stok sebesar 4,2 juta barel pada pekan sebelumnya.
Stok bensin tercatat meningkat sekitar 300.000 barel, sedangkan persediaan produk distilat turun sekitar 300.000 barel.
(DESI ANGRIANI)









