Wall Street Tertekan di Awal September, Nasdaq Anjlok 1,2 Persen

Wall Street Tertekan di Awal September, Nasdaq Anjlok 1,2 Persen

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 1 September 2026 - 22:10
share

IDXChanel - Wall Street dibuka melemah pada perdagangan Selasa (1/9/2026) waktu setempat, tertekan lonjakan harga minyak dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. 

Sentimen investor juga dibayangi faktor musiman karena September secara historis menjadi bulan terburuk bagi kinerja pasar saham AS.

Melansir Investing, indeks Nasdaq Composite memimpin pelemahan dengan turun 1,2 persen ke 26.053,87. Indeks S&P 500 terkoreksi 0,6 persen menjadi 7.638,21, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 0,5 persen ke 52.912,92.

Tekanan di pasar saham AS berlanjut setelah Wall Street ditutup negatif pada perdagangan kemarin. Investor menghadapi dua sentimen negatif sekaligus, yakni meningkatnya ketegangan militer di kawasan Teluk Persia dan perubahan ekspektasi terhadap arah suku bunga global yang semakin hawkish.

Adapun harga minyak mentah bertahan di atas USD90 per barel setelah terjadi pertukaran serangan militer antara Amerika Serikat dan Iran pada akhir pekan.

Pasukan AS sebelumnya menyerang fasilitas rudal Iran di Pulau Larak. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal ke pangkalan militer AS di Yordania.

Eskalasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz dan mengurangi harapan bahwa gangguan pengiriman energi melalui jalur strategis tersebut dapat segera berakhir.

Lonjakan harga energi kembali memunculkan kekhawatiran inflasi akibat kenaikan biaya produksi dan distribusi. Kondisi ini berpotensi menekan margin perusahaan sekaligus mempersempit ruang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Pada saat yang sama, yield Treasury AS meningkat di berbagai tenor, mengikuti aksi jual obligasi pemerintah global. Yield obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun bahkan mencapai 3 persen, level tertinggi dalam beberapa generasi.

Kenaikan biaya pendanaan tersebut menekan valuasi saham-saham dengan pertumbuhan tinggi, terutama perusahaan teknologi berkapitalisasi besar, semikonduktor, dan perusahaan perangkat lunak. Kondisi ini membuat indeks Nasdaq menjadi yang paling terdampak pada awal perdagangan.

Tekanan terhadap Wall Street juga diperkuat perubahan ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed) setelah pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole.

Pernyataan Warsh yang menegaskan bahwa bank sentral masih memiliki pekerjaan untuk mengendalikan tekanan harga mendorong pasar memperkirakan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan probabilitas sebesar 64,4 persen untuk kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin dalam pertemuan 16 September 2026. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan sekitar 35 persen sepekan sebelumnya.

Ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi tekanan tambahan bagi pasar saham karena imbal hasil aset berpendapatan tetap yang lebih tinggi dapat mengurangi daya tarik saham, khususnya saham teknologi dengan valuasi tinggi.

Tekanan tersebut datang ketika investor memasuki September, yang secara historis dikenal sebagai bulan paling menantang bagi pasar saham AS dari sisi kinerja bulanan.

(DESI ANGRIANI)

Topik Menarik