Harga CPO Melesat 6 Persen Sepekan, Cetak Kenaikan Ketiga Beruntun
IDXChannel – Harga minyak sawit mentah (CPO) mencatat kinerja positif sepanjang pekan ini. Harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives menguat hampir 6,54 persen dan membukukan kenaikan mingguan terbesar dalam 24 pekan.
Kontrak berjangka (futures) CPO ditutup naik 1,15 persen pada Jumat (21/8/2026) menjadi 5.018 ringgit Malaysia per ton.
Dengan kinerja tersebut, harga CPO sekaligus mencatat penguatan mingguan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut dan mencapai level tertinggi sejak Desember 2024.
Mengutip Trading Economics, reli harga CPO sepanjang pekan didukung penguatan harga minyak nabati di Bursa Dalian.
Dari sisi domestik, permintaan CPO di Indonesia sebagai produsen terbesar dunia juga meningkat menjelang penerapan penuh mandat biodiesel B50 pada Oktober 2026.
Sentimen penggerak turut datang dari perkembangan El Niño yang meningkatkan kekhawatiran terhadap kondisi cuaca yang lebih kering. Kondisi tersebut berpotensi menekan produksi kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia.
Meski demikian, sejumlah faktor masih membatasi ruang penguatan harga CPO. Persediaan minyak sawit Malaysia meningkat ke level tertinggi dalam lima bulan pada Juli 2026, menunjukkan kondisi pasokan yang masih melimpah.
Dari sisi permintaan, kilang minyak nabati di India berpotensi beralih ke minyak kedelai yang lebih murah. Impor minyak kedelai India bahkan diperkirakan mencapai rekor pada Agustus.
Sementara itu, momentum ekspor CPO Malaysia masih lemah. Survei kargo menunjukkan pengiriman minyak sawit Malaysia sepanjang 1-20 Agustus turun 5,5-13,2 persen dibandingkan periode yang sama pada Juli.
Melansir Reuters, Intertek Testing Services memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada 1-20 Agustus turun 13,2 persen dibandingkan periode yang sama pada Juli. Sementara itu, AmSpec Agri Malaysia memperkirakan penurunan sebesar 5,5 persen.
Kendati demikian, harga CPO Malaysia diperkirakan tetap bertahan di atas 4.600 ringgit Malaysia per ton pada September 2026.
Malaysian Palm Oil Council menilai harga CPO masih mendapat dukungan dari pengetatan pasokan serta gangguan terhadap arus perdagangan global. (Aldo Fernando)










