Negosiasi Dagang AS-Kanada Gagal, Trump Gebuk Tarif Baru 50
Negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat dan Kanada gagal mencapai kesepakatan sehingga tarif impor baru sebesar 50 mulai diberlakukan terhadap sejumlah produk Kanada. Kebijakan tersebut berlaku mulai tengah malam waktu setempat dan mencakup barang impor senilai sekitar USD20 miliar.
"Kanada akan menyamai tarif tersebut dolar demi dolar untuk melindungi pekerja dan dunia usaha kami," ujar Perdana Menteri Kanada Mark Carney dalam pernyataannya, Jumat (21/8) waktu setempat dikutip dari NBC News, Sabtu (22/8/2026).
Baca Juga:Indonesia Termasuk dari 40 Negara yang Dituding Bantu China Mengakali Tarif Trump
Carney mengatakan perundingan telah menghasilkan kemajuan penting, tetapi belum cukup untuk memenuhi kepentingan masyarakat Kanada. Ia kemudian memutuskan menangguhkan negosiasi perdagangan dengan AS dan memerintahkan tim perunding Kanada kembali ke Ottawa.
Tarif baru tersebut dikenakan terhadap berbagai produk, termasuk stik hoki, bahan bangunan, minuman beralkohol, dan jenis pakaian tertentu. Kantor Perwakilan Dagang AS menyebut nilai impor yang terdampak mencapai sekitar USD20 miliar.
Kegagalan perundingan terjadi setelah hampir dua pekan negosiasi intensif. Kedua negara sebelumnya sempat menunjukkan optimisme, terutama setelah Presiden AS Donald Trump menunda penerapan tarif selama tiga hari dan menyatakan bahwa AS serta Kanada telah mencapai kesepakatan yang tinggal difinalisasi.Namun, Carney menilai perubahan persyaratan yang diajukan AS pada menit-menit terakhir tidak adil dan tidak ekonomis. Menurut dia, perubahan tersebut juga mempertanyakan keandalan kesepakatan yang sedang dirundingkan.Baca Juga:Turki Minta Interpol Terbitkan Red Notice untuk Tangkap PM Netanyahu
Sementara itu, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan Kanada menolak memfinalisasi kesepakatan berdasarkan persyaratan yang telah disetujui sebelumnya. Ia menuding permintaan baru serta pembatalan komitmen oleh Kanada telah mengganggu keseimbangan yang dicapai dalam beberapa hari terakhir.
Salah satu persoalan utama ialah keberlanjutan tindakan pembalasan Kanada terhadap AS, termasuk larangan penjualan sejumlah barang dan jasa AS. Larangan terhadap penjualan minuman beralkohol AS di sejumlah provinsi Kanada diberlakukan pada 2025 sebagai respons terhadap gelombang tarif AS sebelumnya.
Pemberlakuan tarif dan aksi balasan tersebut berisiko meningkatkan biaya perdagangan serta menekan konsumen dan perusahaan di kedua negara. Perselisihan itu juga memperburuk hubungan ekonomi dua sekutu yang memiliki rantai pasok dan hubungan dagang yang sangat terintegrasi.









