Harga Emas Tembus Level Tertinggi Lebih dari 2 Bulan usai Data Inflasi AS

Harga Emas Tembus Level Tertinggi Lebih dari 2 Bulan usai Data Inflasi AS

Ekonomi | idxchannel | Kamis, 13 Agustus 2026 - 07:04
share

IDXChannel - Harga emas dunia naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua bulan pada Rabu (12/8/2026) setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) sesuai dengan ekspektasi.

Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada September.

Harga emas spot naik 0,92 persen menjadi USD4.408,52 per troy ons. Harga emas juga menembus rata-rata pergerakan 100 hari atau MA-100 yang berada di level USD4.387,22.

Emas sempat melonjak lebih dari 1 persen ke level tertinggi sejak 5 Juni 2026 pada perdagangan Rabu.

Data menunjukkan inflasi konsumen AS meningkat tipis pada Juli 2026, sehingga berpotensi mengurangi alasan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada bulan depan. Inflasi naik 0,1 persen pada Juli, sesuai dengan estimasi, setelah turun 0,4 persen pada Juni.

"Data CPI cukup menggembirakan. Angkanya lebih tinggi dibandingkan bulan lalu, tetapi sesuai dengan estimasi, ditambah pelemahan dolar dan faktor teknikal yang turut membantu emas menguat," kata analis Marex Edward Meir, dikutip Reuters.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September sekitar 40 persen, turun dari 46 persen sebelum data inflasi dirilis, berdasarkan CME FedWatch Tool.

The Fed pada 29 Juli 2026 mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50 persen-3,75 persen. Namun, tiga dari 12 anggota pemilih tidak setuju dengan keputusan tersebut dan memilih kenaikan suku bunga.

Suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil.

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada data Producer Price Index (PPI) AS yang akan dirilis pada Kamis (13/8) waktu setempa.

Di sisi lain, AS dan kelompok Houthi yang beraliansi dengan Iran melaporkan serangan terpisah terhadap kapal pada Selasa. Kondisi tersebut terjadi ketika prospek berakhirnya perang Iran mulai meredup.

"Jika kembali terjadi permusuhan, harga minyak bisa bergerak kembali menuju USD100 per barel. Dalam kondisi tersebut, suku bunga dapat bergerak naik dan emas bisa tertekan," ujar Meir. (Aldo Fernando)

Topik Menarik