Dr. Rio Christiawan Dorong Edukasi ESG Lintas Generasi, dari Cerita Anak hingga Film Animasi
IDXChannel – Nilai-nilai Environmental, Social, and Governance (ESG) perlu dikenalkan kepada masyarakat sejak usia dini melalui pendekatan yang sesuai dengan karakter setiap generasi. Hal tersebut disampaikan akademisi, praktisi hukum, dan sustainability, Dr. Rio Christiawan, usai menghadiri ajang IDX Channel Anugerah ESG 2026 di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (29/7/2026).
Menurut Dr. Rio, edukasi ESG tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk semua kalangan. Pesan mengenai keberlanjutan harus dikemas sesuai dengan usia dan latar belakang audiens agar lebih mudah dipahami dan diterapkan.
"Saya menyampaikan topik ESG kepada setiap kelompok usia dengan pendekatan yang berbeda. Di perguruan tinggi saya mengajar, menulis buku, aktif mengisi seminar, dan mengembangkan berbagai proyek yang berkaitan dengan ESG," ujar Dr. Rio.
Sementara untuk anak-anak usia sekolah dasar, Dr. Rio memilih media yang lebih dekat dengan dunia mereka, seperti cerita pendek dan film animasi. Menurutnya, cara tersebut lebih efektif untuk menanamkan nilai-nilai keberlanjutan sejak dini.
"Untuk anak-anak, saya mengajarkan ESG melalui cerita. Saya rutin menulis cerpen anak dan baru-baru ini juga meluncurkan buku bertema lingkungan dan satwa. Selain itu, saya juga membuat film animasi bertema ESG agar lebih mudah dipahami oleh anak-anak," katanya.
Melalui berbagai karya tersebut, Dr. Rio memperkenalkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan, tata kelola yang baik, hingga pentingnya hidup berdampingan dengan masyarakat adat dan alam. Harapannya, ketika mereka dewasa, konsep ESG bukan lagi sesuatu yang asing, melainkan telah menjadi bagian dari cara berpikir dan berperilaku sehari-hari. Dr. Rio menilai, membangun kesadaran sejak usia dini merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan keberlanjutan Indonesia.
Selain aktif mengedukasi masyarakat, Dr. Rio juga terlibat sebagai anggota Satuan Tugas Pengembangan Kerangka Implementasi Kredit Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Credit) Indonesia. Dari pengalamannya tersebut, ia menegaskan bahwa ESG seharusnya dipandang sebagai peluang untuk menciptakan nilai tambah, bukan sekadar kewajiban memenuhi regulasi.
"ESG harus dipandang sebagai sebuah potensi, bukan beban. Penerapannya harus melampaui sekadar kepatuhan terhadap regulasi (beyond compliance), karena pada akhirnya ESG mampu menciptakan nilai bagi organisasi maupun masyarakat," ujarnya.
Di akhir wawancara, Dr. Rio juga mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk mulai mengembangkan program studi atau bahkan fakultas yang secara khusus berfokus pada sustainability. Menurutnya, kebutuhan akan talenta di bidang keberlanjutan akan terus meningkat, seiring semakin besarnya perhatian dunia terhadap isu ESG.
"Saat ini sustainability umumnya masih diajarkan sebagai satu mata kuliah. Padahal di banyak universitas luar negeri, sustainability maupun ESG sudah berkembang menjadi program studi bahkan fakultas tersendiri. Di Indonesia memang mulai dirintis, dan saya melihat ini menjadi langkah yang sangat penting karena ESG memiliki peran strategis dari berbagai perspektif," kata Dr. Rio.
(Rahmat Fiansyah/ADV)









