Pengumuman The Fed dan Kinerja Big Tech Uji Wall Street Pekan Depan
IDXChannel - Pasar saham AS pekan depan akan diuji hasil rapat Federal Reserve (The Fed) yang diharapkan memberi gambaran mengenai jalur suku bunga ke depan. Gelombang laporan keuangan emiten perusahaan teknologi dan raksasa kecerdasan buatan juga akan menguji Wall Street.
Melansir Reuters, Minggu (26/7/2026), indeks-indeks utama Wall Street mencatat penurunan mingguan akibat anjloknya saham Alphabet dan Tesla setelah keduanya merilis laporan keuangan kuartalan.
Tekanan terhadap Alphabet, induk Google, dipicu keputusan perusahaan untuk kembali meningkatkan belanja AI yang sudah sangat besar. Hal tersebut menciptakan sentimen negatif menjelang laporan keuangan pekan depan dari para hyperscaler AI lainnya, yakni Microsoft, Amazon, dan Meta Platforms.
Saham-saham yang berkaitan dengan AI menjadi motor utama kenaikan pasar saham sepanjang tahun ini dan membantu mendorong pasar bullish. Meski sempat melemah pekan ini, indeks acuan S&P 500 masih naik lebih dari 8 persen sepanjang 2026.
Sementara itu, rapat The Fed berlangsung ketika harga minyak melonjak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Harga minyak Brent sempat menyentuh USD100 per barel pada Kamis.
Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran, pembuat kebijakan moneter perlu bersikap lebih agresif dalam menaikkan suku bunga guna mengendalikan inflasi, yang masih bertahan jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen.
Pasar secara umum memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga saat mengumumkan keputusan kebijakan moneternya pada Rabu. Namun, hingga Jumat malam, kontrak berjangka Fed Funds masih mencerminkan peluang sebesar 38 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, menurut data LSEG.
Meski demikian, sebagian pelaku pasar di Wall Street masih menilai ada kemungkinan The Fed memberikan kejutan. Hal ini karena Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, tengah mengubah cara bank sentral berkomunikasi mengenai kebijakan moneternya.
“Kemungkinan adanya kenaikan suku bunga yang mengejutkan tidak bisa sepenuhnya dikesampingkan,” tulis ekonom BNP Paribas dalam catatan riset pekan ini.
Pertemuan kali ini merupakan rapat kedua di bawah kepemimpinan Warsh. Dia memilih untuk tidak memberikan forward guidance (petunjuk mengenai arah kebijakan ke depan), meski menegaskan komitmennya membawa inflasi kembali ke target.
Sekalipun The Fed mempertahankan suku bunga pada Rabu, investor akan mencermati setiap petunjuk mengenai arah kebijakan berikutnya, baik dalam pernyataan resmi maupun konferensi pers Warsh setelah rapat.
Saat ini, pasar kontrak berjangka Fed Funds memperkirakan akan ada dua kali kenaikan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin hingga rapat Januari 2027.
Kenaikan suku bunga dapat mendorong imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Yield Treasury tenor 10 tahun, yang telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir, sempat melampaui 4,7 persen pada Kamis, level tertinggi sejak awal 2025. Yield bergerak berlawanan arah dengan harga obligasi.
Selain itu, investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi penting AS pekan depan, termasuk pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II, inflasi bulanan, serta indeks sentimen konsumen.
(NIA DEVIYANA)









