Gubernur BI Ungkap Alasan Tahan Suku Bunga di Tengah Tren Pelemahan Rupiah

Gubernur BI Ungkap Alasan Tahan Suku Bunga di Tengah Tren Pelemahan Rupiah

Berita Utama | idxchannel | Rabu, 22 Juli 2026 - 17:04
share

IDXChannel - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan, alasan bank sentral memilih mempertahankan suku bunga acuan di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang pekan lalu sempat menyentuh level Rp18.000 per USD.

Menurut Perry, pelemahan rupiah tidak selalu harus direspons dengan menaikkan BI-Rate. Langkah tersebut justru berpotensi meningkatkan suku bunga kredit perbankan, sehingga dapat menekan aktivitas dunia usaha, menghambat ekspansi investasi, dan pada akhirnya berdampak terhadap penciptaan lapangan kerja.

"Pada hari ini memang BI ada dua pilihan, apakah menaikkan BI Rate dengan konsekuensi suku bunga dalam negeri juga akan naik, atau yang kami lakukan hari ini tidak menaikkan BI Rate," kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (22/7/2026).

Sebagai alternatif, BI memilih memperkuat bauran kebijakan moneter dengan meningkatkan berbagai insentif bagi investor asing guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tanpa membebani sektor riil melalui kenaikan biaya pinjaman.

Salah satu kebijakan yang ditempuh adalah menaikkan insentif pengurangan premi untuk transaksi Swap Jual Lindung Nilai dari sebelumnya 10 persen menjadi 12,5 persen. Selain itu, BI juga memberikan insentif sebesar 15 persen untuk transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Jual Lindung Nilai.

Menurut Perry, kombinasi kedua kebijakan tersebut dinilai lebih efektif dalam menarik aliran modal asing sekaligus menopang stabilitas nilai tukar rupiah dibandingkan menaikkan suku bunga acuan.

"Dengan insentif ini lebih efektif menarik investasi asing mengendalikan nilai tukar, dan tentu saja tanpa memberikan dampak kenaikan suku bunga dalam negeri, lebih efektif dari kenaikan BI Rate," ujarnya.

Perry mengatakan, penguatan bauran kebijakan moneter dilakukan agar instrumen keuangan domestik tetap kompetitif di mata investor global, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ekspektasi percepatan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (Fed Funds Rate).

Bank Indonesia mencatat aliran modal asing ke pasar keuangan domestik masih menunjukkan tren positif. Pada kuartal II-2026, investasi portofolio asing mencatatkan net inflows sebesar USD8,5 miliar, terutama ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Memasuki kuartal III-2026, arus dana asing masih berlanjut. Hingga 20 Juli 2026, pasar SBN kembali mencatat net inflows sebesar USD0,1 miliar.

Di sisi lain, BI juga meningkatkan daya tarik SRBI melalui penyesuaian imbal hasil. Kebijakan tersebut mulai membuahkan hasil, tercermin dari kepemilikan investor nonresiden pada SRBI yang meningkat dari Rp238,09 triliun pada 15 Juni 2026 menjadi Rp288,65 triliun per 20 Juli 2026, atau setara 27,11 persen dari total outstanding SRBI.

Tak hanya itu, BI memperluas instrumen operasi moneter di pasar valuta asing dengan menyediakan transaksi spot dan swap dalam valuta offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah. Langkah tersebut ditempuh seiring meningkatnya penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi dengan negara-negara mitra.

Perry menegaskan, Bank Indonesia akan terus memperkuat berbagai instrumen kebijakan guna menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.

"Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung komitmen Bank Indonesia melalui berbagai penguatan stabilitas nilai tukar rupiah, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik," kata Perry.

(DESI ANGRIANI)

Topik Menarik