Masuk Daftar Delisting, Indofarma (INAF) Beberkan Progres Pemulihan Kinerja
IDXChannel - PT Indofarma Tbk (INAF) melaporkan perkembangan proses pemulihan kondisi keuangan sekaligus penyebab suspensi sahamnya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).
Perseroan menyatakan, langkah transformasi dan restrukturisasi yang dijalankan mulai menunjukkan hasil positif meski sahamnya masih disuspensi dan berpotensi delisting.
Saham INAF telah dihentikan sementara perdagangannya sejak 2 Juli 2024 akibat memburuknya kondisi keuangan perseroan, termasuk posisi ekuitas yang negatif. Hingga 30 Juni 2026, INAF tercatat sebagai salah satu dari 59 emiten yang berpotensi mengalami penghapusan pencatatan (delisting) dari BEI.
Dalam keterbukaan informasi, Kamis (30/6/2026) manajemen menjelaskan, perseroan masih menghadapi tantangan dari sisi likuiditas sepanjang 2025. Penjualan bersih tercatat sebesar Rp151,5 miliar. Meski demikian, program efisiensi dan pengendalian biaya mulai memberikan dampak terhadap kinerja keuangan.
Perseroan berhasil menekan beban pokok penjualan sebesar 31,1 persen sehingga rasio harga pokok penjualan terhadap penjualan membaik dari 117,8 persen menjadi 112,7 persen. Selain itu, beban penjualan serta beban umum dan administrasi (SG&A) dipangkas hingga 55,7 persen.
Efisiensi tersebut mendorong penurunan rugi kotor sebesar 48,8 persen dari Rp37,5 miliar pada 2024 menjadi Rp19,2 miliar pada 2025. Sementara itu, rugi bersih menyusut 76,7 persen menjadi Rp77,9 miliar, dibandingkan Rp334,5 miliar pada tahun sebelumnya.
Manajemen menyebut, perbaikan rugi bersih juga ditopang oleh dekonsolidasi PT Indofarma Global Medika (IGM) yang telah dinyatakan pailit serta pelaksanaan restrukturisasi utang pemegang saham.
Dari sisi struktur permodalan, defisiensi modal juga mengalami perbaikan signifikan. Posisi ekuitas negatif berkurang dari Rp1,14 triliun pada 2024 menjadi negatif Rp707 miliar pada 2025.
Memasuki kuartal I-2026, INAF mengklaim tren pemulihan terus berlanjut. Perseroan mencatat perbaikan pada laba kotor yang didorong oleh efisiensi beban pokok penjualan, peningkatan fokus pada segmen produk ethical, serta optimalisasi utilisasi fasilitas produksi.
Sejalan dengan itu, perseroan menargetkan pendapatan tahun 2026 mencapai Rp187,3 miliar atau tumbuh 23,6 persen dibandingkan realisasi 2025. INAF juga membidik laba kotor positif sebesar Rp32,5 miliar, berbalik dari rugi kotor Rp19,2 miliar pada tahun sebelumnya.
Selain memperbaiki operasional, perseroan menegaskan komitmennya menjalankan seluruh kewajiban dalam putusan homologasi sebagai bagian dari restrukturisasi utang. Sepanjang 2025, INAF mengeklaim telah memenuhi kewajiban pembayaran sesuai jadwal, termasuk komitmen melakukan pembayaran kepada Kreditur Tipe B pada September 2025.
Untuk mempercepat pemulihan, INAF menetapkan empat fokus strategi pada 2026 di antaranya meningkatkan efisiensi melalui penerapan lean manufacturing dan optimalisasi kapasitas produksi, memperkuat pasar pemerintah dan institusi melalui peningkatan partisipasi dalam e-catalog serta kontrak pengadaan jangka panjang.
Lalu mengembangkan bisnis sebagai produsen produk injeksi dengan mengoptimalkan fasilitas produksi steril, mendorong substitusi impor, serta menjalin kemitraan strategis serta memperkuat posisi sebagai pusat produksi Obat Bahan Alam (OBA) nasional melalui diversifikasi produk, serta pengembangan kemitraan dari hulu hingga hilir.
(DESI ANGRIANI)









