Risalah The Fed hingga Musim Laporan Keuangan Bayangi Wall Street Pekan Depan

Risalah The Fed hingga Musim Laporan Keuangan Bayangi Wall Street Pekan Depan

Ekonomi | idxchannel | Minggu, 5 Juli 2026 - 17:30
share

IDXChannel - Risalah Federal Reserve (The Fed) pada Rabu (8/7/2026) membayangi Wall Street pekan depan di mana prospek suku bunga telah berubah drastis. Pada awal tahun, pasar memperkirakan terjadi penurunan suku bunga yang diyakini bakal mendukung pasar saham. 

Kini, ekspektasi bergeser menjadi kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Ekspektasi kebijakan yang lebih hawkish menguat setelah rapat The Fed bulan lalu, yang merupakan rapat pertama di bawah kepemimpinan ketua baru, Kevin Warsh. Dia menegaskan bahwa bank sentral akan berfokus pada upaya menjaga stabilitas harga, dengan inflasi yang masih berada di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen. 

Warsh juga mengingatkan bahwa bank sentral tidak lagi akan “menggandeng tangan” pasar dengan memberikan panduan ke depan (forward guidance) mengenai langkah kebijakan dalam waktu dekat. Kondisi ini membuat risalah rapat kebijakan moneter menjadi semakin penting bagi pelaku pasar.

“Saya rasa akan menarik melihat bagaimana diskusi berlangsung di meja rapat, dan seberapa hawkish kecenderungan mereka,” kata Co-Chief Investment Strategist di Manulife John Hancock Investments, Matthew Miskin, dilansir Reuters, Minggu (5/7/2026).

Menurut investor, salah satu topik penting yang harus dicermati para pejabat The Fed adalah dampak harga energi terhadap inflasi, mengingat menjelang rapat tersebut harga energi mulai turun setelah lonjakan akibat perang Iran. Topik lain adalah sejauh mana terdapat perbedaan pandangan di antara para pejabat bank sentral.

Suku bunga yang lebih tinggi dapat menekan pasar saham karena meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen dan perusahaan, sekaligus mendorong kenaikan imbal hasil obligasi sehingga membuat obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan saham.

Data LSEG pada Kamis malam menunjukkan pasar kontrak berjangka suku bunga The Fed memperkirakan peluang yang hampir seimbang bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Sementara itu, data Departemen Tenaga Kerja AS yang dirilis Kamis menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja pada Juni melambat tajam, sehingga meredakan sebagian kekhawatiran pasar mengenai kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Investor juga akan mencermati sektor teknologi yan mulai kehilangan momentum dalam beberapa pekan terakhir.

Saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor, menjadi motor utama kenaikan pasar dalam beberapa bulan terakhir. Indeks acuan S&P 500 melonjak 14,9 persen pada akhir kuartal II, menjadi kinerja kuartalan terbaik sejak 2020.

Namun belakangan, sektor tersebut mengalami fluktuasi tajam, termasuk penurunan signifikan pada akhir pekan ini. Di sisi lain, sektor lain seperti kesehatan, industri, dan keuangan mencatatkan kinerja yang baik sepanjang bulan terakhir. Hal ini memunculkan harapan investor bahwa reli pasar mulai meluas ke lebih banyak sektor, bukan hanya bergantung pada saham teknologi.

“Itulah yang akan saya perhatikan dalam beberapa pekan ke depan, apakah pelebaran reli ini akan terus berlanjut,” kata Kepala Strategi Perdagangan dan Derivatif di Charles Schwab, Joe Mazzola.

Musim laporan keuangan segera dimulai

Meski agenda data ekonomi AS pekan depan relatif ringan, rilis data aktivitas sektor jasa dan manufaktur diperkirakan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah inflasi.

Pasar saham telah pulih dalam beberapa bulan terakhir setelah sempat tertekan akibat konflik AS-Israel dengan Iran. Hingga saat ini pada 2026, indeks S&P 500 telah menguat lebih dari 9 persen, sedangkan indeks teknologi Nasdaq Composite naik sekitar 11 persen.

Laba perusahaan yang jauh lebih baik dari perkiraan pada kuartal I menjadi fondasi utama kenaikan pasar sekaligus meningkatkan ekspektasi terhadap musim laporan keuangan kuartal II yang akan mulai memanas pada akhir bulan ini.

Dua laporan awal yang akan dirilis pekan depan berasal dari Delta Air Lines dan PepsiCo, yang dipandang mampu memberikan gambaran dari dua sisi berbeda mengenai tren belanja konsumen.

Secara keseluruhan, laba perusahaan-perusahaan anggota S&P 500 pada kuartal II diperkirakan tumbuh lebih dari 24 persen, berdasarkan data LSEG IBES.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik