Bisnis Ritel Masih Jadi Sumber Pertumbuhan Asuransi Tugu (TUGU)
IDXChannel – Prospek saham PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) kembali mendapat perhatian dari pelaku pasar. Hal tersebut diungkap dalam catatan Mirae Asset Sekuritas.
Dikutip dari riset Mirae Asset Jumat (3/7/2026), TUGU sebagai salah satu perusahaan asuransi umum terdepan di Indonesia, baik dari sisi pangsa pasar, profitabilitas, maupun kualitas layanan. Fokus utama diarahkan pada penguatan portofolio bisnis, optimalisasi bisnis eksisting, pengembangan segmen ritel dan syariah, transformasi digital, peningkatan hasil investasi, serta penguatan manajemen risiko.
Mirae Asset menyoroti bahwa bisnis ritel masih menjadi ruang pertumbuhan terbesar bagi perseroan. Saat ini kontribusi premi ritel masih di bawah 10 persen. Namun TUGU menargetkan porsi tersebut meningkat menjadi dua digit dalam jangka panjang melalui pengembangan produk motor, perjalanan, kesehatan, syariah, serta peningkatan kapabilitas platform digital.
Di sisi industri, TUGU dinilai berada pada posisi yang menguntungkan menghadapi konsolidasi sektor asuransi. Penerapan ketentuan modal minimum OJK secara bertahap pada periode 2026–2028 diperkirakan meningkatkan tekanan terhadap perusahaan asuransi yang memiliki permodalan terbatas.
Dengan basis modal yang kuat, TUGU dinilai memiliki peluang memperluas pangsa pasar maupun mengakuisisi portofolio bisnis dari pemain yang lebih kecil.
Prospek tersebut juga didukung kondisi makro yang dinilai masih kondusif. Pertumbuhan ekonomi, meningkatnya aktivitas di sektor energi, serta kenaikan kebutuhan perlindungan risiko diperkirakan akan mendorong permintaan produk asuransi, khususnya pada proyek-proyek energi yang selama ini menjadi salah satu kekuatan utama TUGU.
Fundamental TUGU juga tetap solid. Menurut catatan Mirae Asset Sekuritas, sepanjang 2025, insurance service result meningkat menjadi Rp1 triliun, pendapatan investasi naik 61,1 persen secara tahunan menjadi Rp717 miliar.
Sementara laba bersih yang diatribusikan kepada pemegang saham melonjak 77,1 persen menjadi Rp711 miliar. Kinerja tersebut ditopang oleh underwriting yang lebih baik, hasil investasi yang meningkat, serta efisiensi operasional.
Mirae Asset juga mencatat implementasi PSAK 117 tidak mengubah kekuatan neraca. TUGU tetap memiliki ekuitas konsolidasian di atas Rp10 triliun dan ekuitas induk lebih dari Rp5 triliun, sehingga tetap memiliki kapasitas permodalan yang kuat untuk mendukung ekspansi bisnis maupun memenuhi kewajiban klaim.
“TUGU menawarkan kombinasi yang kuat antara spesialisasi di sektor energi, dukungan Pertamina, global rating AM Best, RBC yang solid, pendapatan investasi yang kuat, kualitas laba yang membaik, serta potensi upside dari konsolidasi BUMN dan industri asuransi secara luas. Investment case TUGU ditopang oleh neraca yang kuat, eksposur khusus pada risiko korporasi besar dan sektor energi, peningkatan profitabilitas sepanjang 2025, serta potensi rerating apabila investor semakin memahami profil manajemen risiko TUGU," dikutip dari catatan Mirae Asset Sekuritas.
Kinerja harga saham TUGU terpantau mengalami kenaikan 5,3 persen sepanjang pekan lalu dan ditutup di Rp1.185 per saham. Kinerja harga saham TUGU melampaui indeks sektoral keuangan yang ambles 2,8 persen dan IHSG yang anjlok 4,5 persen.
Apresiasi harga saham terjadi pasca TUGU menyampaikan Keterbukaan Informasi (KI) bahwa pihaknya terlibat dalam penjajakan kajian konsolidasi atau streamlining bisnis asuransi di ekosistem Danantara yang dipublikasikan pada 23 Juni 2026.
(kunthi fahmar sandy)










