Pendapatan Black Diamond (COAL) Nol, 66 Ribu Investor Terjebak di Harga Rp22

Pendapatan Black Diamond (COAL) Nol, 66 Ribu Investor Terjebak di Harga Rp22

Ekonomi | idxchannel | Rabu, 1 Juli 2026 - 12:20
share

IDXChannel - Sebanyak 66 ribu investor PT Black Diamond Resources Tbk (COAL) kini menghadapi ketidakpastian seiring kinerja operasional emiten batu bara itu menunjukkan tekanan besar, dengan pendapatan kuartal I-2026 tercatat nol dan harga saham jatuh.

Sebelum disuspensi bursa, per Senin (29/6/2026), saham COAL berada di level Rp22 per unit. Saham ini sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa (ATH) di Rp635 per unit pada 22 September 2022, hanya berapa pekan usai melantai di BEI.

Berdasarkan data BEI, jumlah pemegang saham COAL mencapai 66.831 investor per 31 Mei 2026. Angka tersebut turun dibandingkan 72.803 investor pada akhir April 2026.

Tekanan terhadap saham COAL datang bersamaan dengan memburuknya kinerja fundamental perusahaan.

Dalam laporan keuangan kuartal I-2026, COAL mencatat pendapatan usaha sebesar Rp0, berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya ketika perseroan masih membukukan penjualan Rp126,52 miliar.

Hilangnya pendapatan membuat COAL tidak lagi mencatat laba bruto yang sebelumnya mencapai Rp19,74 miliar pada kuartal I 2025.

Perseroan pun berbalik membukukan rugi bersih Rp8,29 miliar, dibandingkan laba bersih Rp5,39 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.

Masalah lain muncul dari sisi likuiditas. Arus kas operasi COAL tercatat negatif Rp13,79 miliar sepanjang kuartal I-2026. Sementara itu, kas dan setara kas perusahaan menyusut menjadi hanya Rp233 juta dari Rp14,29 miliar pada akhir 2025.

Di sisi kewajiban, COAL masih memiliki utang bank jangka pendek sebesar Rp195 miliar. Kondisi ini membuat kemampuan perusahaan menjaga operasional dan memenuhi kewajiban keuangan menjadi perhatian investor.

BEI sebelumnya memasukkan COAL dalam daftar saham dengan notasi khusus S dan X.

Notasi S diberikan karena laporan keuangan terakhir menunjukkan perusahaan tidak memiliki pendapatan usaha berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026, sedangkan notasi X menunjukkan saham COAL tercatat di Papan Pemantauan Khusus.

Asal tahu saja, COAL merupakan perusahaan induk yang menaungi perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) produksi batu bara.

Sebelum membukukan nol pendapatan, aktivitas penambangan COAL dilakukan di wilayah Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Perusahaan mulai menjalankan kegiatan usaha komersial sejak 2020 dan berkedudukan sekaligus berkantor pusat di Jakarta Selatan.

Di balik gejolak sahamnya, perusahaan sebelumnya dikendalikan oleh Sujaka Lays sebagai pemegang saham pengendali sekaligus beneficiary owner (UBO) perseroan berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026. Namun, data bursa terbaru per akhir Mei 2026, COAL tidak memiliki UBO.

Sujaka menguasai 8,68 persen saham COAL, sedangkan masyarakat non warkat memiliki 79,32 persen saham per Mei 2026. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik