Gamers Punya Kesamaan Skill dengan Strategi Investor Mengelola Modal di Pasar Keuangan
IDXChannel - Literasi keuangan kini semakin diperluas ke generasi muda pada komunitas eSports. Hal ini dinilai penting karena bertujuan untuk edukasi finansial yang mengubah cara pandang komunitas digital terhadap masa depan keuangannya.
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2025 menunjukkan ketimpangan tajam. Meski inklusi keuangan anak muda (18–25 tahun) melesat hingga 89,96 persen, literasi finansial mereka baru menyentuh 73,22 persen.
Kesenjangan sebesar 16,74 persen ini menjadi alarm keras bahwa 1 dari 5 anak muda nekat berinvestasi tanpa paham risiko, yang berujung pada rendahnya keaktifan pasar, dimana hanya 1 dari 14 investor terdaftar yang aktif bertransaksi setiap bulannya.
President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Moleonoto The menyoroti adanya irisan besar antara komunitas eSports Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) dan investor muda seperti Gen Z dan Milenial yang kini menjadi tulang punggung pasar modal nasional. Namun, di balik lonjakan masif tersebut, terdapat anomali kritis berupa fenomena Fear of Missing Out (FOMO).
"Kami percaya komunitas eSports memiliki kemampuan membaca data, disiplin, dan mengambil keputusan cepat. Karakter inilah yang juga dibutuhkan dalam investasi. Melalui edukasi dan teknologi AI, dan sebagai pelopor AI transformation Platform di Indonesia, kami ingin membantu generasi muda mengubah kemampuan tersebut menjadi fondasi untuk membangun masa depan finansial yang lebih baik," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (22/6/2026).
IPOT memiliki National AI Transformation Platform, platform investasi berbasis AI yang menggabungkan literasi finansial, teknologi, dan edukasi bagi generasi muda.
Menurut Moleonoto, transformasi ini mengubah peran IPOT melampaui sekuritas konvensional menjadi pusat literasi finansial terintegrasi, di mana teknologi AI Robo Trading berfungsi otomatis sebagai pelindung modal dan penegak disiplin investasi demi menghindari bias emosional.
Seluruh ekosistem digital ini dipayungi oleh arsitektur keamanan siber berlapis yang sangat ketat (meliputi SIM OTP, ASDI Device Lock, hingga AI Threat Detection 24/7) untuk mengarahkan kompetensi anak muda dari sekadar pengguna teknologi biasa menjadi investor cerdas AI yang mandiri secara finansial.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari menyatakan, stigma literasi keuangan rumit dan membosankan harus didobrak. Ketangkasan digital, pembacaan data, dan taktik makro yang biasa digunakan para pemain di arena MLBB memiliki kemiripan substantif dengan strategi mengelola modal di pasar keuangan dunia nyata.
"Di era AI, yang tertinggal bukan orang yang tidak punya uang, tetapi orang yang tidak tahu cara mengelola uangnya. Jika teknologi kecerdasan buatan mampu membuat seseorang menjadi lebih hebat dalam ketangkasan digital seperti bermain game maka teknologi AI yang sama seharusnya dapat dimanfaatkan untuk membantu mereka menjadi lebih cerdas dalam membangun masa depan finansial," kata dia.
Dia lantas mengajak komunitas gamers untuk menyelaraskan skill set di dalam permainan mereka menjadi empat kemampuan Smart Money.
Pertama, Map Awareness (Baca Kondisi). Jika dalam game pemain harus jeli melihat pergerakan musuh, gold, dan objektif pada peta, maka di pasar modal investor dituntut membaca data tren makro, laporan keuangan, serta risiko sebelum menempatkan dana.
Kedua, Timing (Kapan Harus Bertindak). Mengetahui momentum yang tepat untuk masuk ke dalam pertempuran (war), mempertahankan posisi, atau mundur. Di dunia investasi, ini tercermin pada keputusan kapan harus membeli saham, menahan (hold), atau menjual demi membatasi kerugian.
Ketiga, Item Build (Pemilihan Instrumen). Memilih dan meracik kombinasi item yang sesuai dengan peran (role) karakter. Di dunia nyata, ini setara dengan melakukan diversifikasi serta alokasi aset sesuai profil risiko individu.
Keempat, Disiplin (No All-In). Bermain bagus berarti tidak emosional, tidak asal maju, dan tidak melakukan all-in tanpa kalkulasi matang.
Selain itu, untuk memudahkan pemahaman para pemula, pelajar, serta komunitas eSports, IPOT menganalogikan alokasi instrumen investasi layaknya pemilihan fungsi build item pada permainan Mobile Legends.
- Saham itu ibarat Blade of Despair yang berfungsi sebagai komponen Full Damage Item. Menawarkan potensi pertumbuhan modal (capital gain) serta pembagian dividen yang tinggi dalam jangka panjang, namun memiliki fluktuasi risiko yang setara.
- Exchange Traded Fund (ETF) itu ibarat Top Country Pro Build yang memberikan akses diversifikasi instrumen secara instan yang menyamai racikan portofolio andalan dari para profesional.
- Reksa Dana itu ibarat Tank atau Support yang memberikan perlindungan, fleksibilitas ramah pemula, dan keseimbangan bagi portofolio secara terstruktur.
- Obligasi itu ibarat Defense Build yang menjaga stabilitas portofolio dengan pendapatan tetap yang cenderung aman dari risiko guncangan besar.
Brigita menambahkan, proses pengelolaan keuangan juga membutuhkan urutan farming yang logis layaknya early game menuju strategi Late Game Scaling. Investor pemula diajak mengamankan dana likuid terlebih dahulu, mulai konsisten mengumpulkan aset dari instrumen yang dipahami, hingga akhirnya mencapai pertumbuhan eksponensial lewat efek bunga berbunga (compounding power).
Sebagai basis pertahanan (Base Defense), instrumen xRDN dari IPOT pun diperkenalkan dengan tingkat imbal hasil dasar 2 persen per tahun untuk menjaga agar nilai kas mengendap tidak menyusut tergerus inflasi.
(Dhera Arizona)










