IHSG Melonjak 3 Persen, Bank Besar dan Saham Konglo Jadi Penopang Utama

IHSG Melonjak 3 Persen, Bank Besar dan Saham Konglo Jadi Penopang Utama

Ekonomi | idxchannel | Rabu, 10 Juni 2026 - 10:20
share

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (10/6/2026).

Hingga pukul 09.53 WIB, IHSG naik 3,14 persen ke level 5.926,87 setelah sehari sebelumnya melonjak 7,57 persen.

Penguatan ini menjadi upaya pasar untuk mengakhiri tren negatif yang berlangsung selama empat hari beruntun pada 3-9 Juni 2026. Rebound didorong oleh kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar (big cap), terutama kelompok perbankan dan konglomerasi.

Di sektor perbankan, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 7,28 persen ke Rp5.525 per unit. Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menguat 8,56 persen ke Rp3.550 per unit.

Selanjutnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) naik 3,58 persen ke Rp2.890 per unit, sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) bertambah 3,18 persen ke Rp4.220 per unit.

Selain bank-bank besar, saham-saham yang terafiliasi dengan kelompok konglomerasi juga menjadi motor penggerak indeks.

Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), bagian dari Grup Sinarmas, melesat 20 persen ke Rp810 per unit.

Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang merupakan entitas utama Grup Barito naik 14,16 persen ke Rp1.895 per unit. Sementara itu, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), juga bagian dari Grup Barito, menguat 5,13 persen ke Rp4.300 per unit.

Dari kelompok teknologi dan pusat data, saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang terafiliasi dengan taipan Anthoni Salim melonjak 9,39 persen ke Rp189.800 per saham.

Kenaikan saham-saham berkapitalisasi besar tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan IHSG karena bobotnya yang dominan dalam pergerakan indeks.

Meski demikian, posisi IHSG masih berada dalam fase pemulihan. Secara mingguan indeks masih turun 4,25 persen, melemah 14,87 persen dalam satu bulan terakhir, dan terkoreksi 31,40 persen secara year-to-date (ytd).

Sebelumnya, pasar saham domestik tertekan oleh kombinasi sejumlah sentimen negatif, mulai dari aksi outflow investor asing, peringatan terkait transparansi pasar dari MSCI yang kemudian diikuti FTSE Russell, pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh rekor terendah, ketidakpastian kebijakan di dalam negeri, hingga meningkatnya tensi geopolitik global.

Sentimen positif terbaru datang dari langkah Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan serta upaya sejumlah institusi domestik untuk menjaga stabilitas pasar modal.

Phintraco Sekuritas menilai keputusan BI menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen mendapat respons positif dari pasar. Kebijakan tersebut diikuti penguatan nilai tukar rupiah sebesar 0,65 persen ke level Rp18.065 per USD kemarin.

BI menyatakan langkah tersebut diperlukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus menjaga ketahanan ekonomi nasional dan memastikan target inflasi 2026-2027 tetap tercapai.

Selain menaikkan BI Rate, BI juga meningkatkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) di seluruh tenor 6, 9, dan 12 bulan serta memberikan insentif berupa penurunan biaya hedging swap bagi investor asing sebesar 10 persen.

Otoritas moneter juga membuka kembali lelang instrumen repo untuk tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan bagi perbankan serta meningkatkan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing guna memperkuat stabilisasi nilai tukar.

Dari sisi teknikal, Phintraco mencatat IHSG berhasil kembali ditutup di atas level rata-rata pergerakan 200 bulan (MA200 monthly) setelah sehari sebelumnya sempat berada di bawah level tersebut. Pada grafik harian, IHSG juga ditutup di atas MA5 sekaligus menutup gap yang terbentuk pada perdagangan sebelumnya.

Indikator Stochastic RSI bahkan telah membentuk golden cross di area oversold, yang mengindikasikan peluang berlanjutnya pemulihan pasar dalam jangka pendek.

Dengan kondisi tersebut, Phintraco memperkirakan IHSG bergerak pada rentang 5.600 hingga 5.850.

Selain sentimen dari BI, pasar juga mendapat dukungan dari langkah DPR yang berkoordinasi dengan sejumlah institusi seperti Danantara, BPJS Ketenagakerjaan, PT Taspen (Persero), dan bank-bank Himbara untuk merespons dinamika pasar modal.

Salah satu opsi yang dibahas adalah rencana buyback saham perbankan BUMN yang tercatat di BEI. (Aldo Fernando)

Topik Menarik