Gencatan Senjata Gagal! Harga Minyak Dunia Terbang Tinggi Hampir 1 saat AS Kembali Gempur Iran

Gencatan Senjata Gagal! Harga Minyak Dunia Terbang Tinggi Hampir 1 saat AS Kembali Gempur Iran

Ekonomi | sindonews | Rabu, 10 Juni 2026 - 08:49
share

Serangan terbaru Amerika Serikat (AS) ke wilayah Iran, langsung membuat harga minyak mentah dunia terbang tinggi hampir 1 pada perdagangan, Rabu (10/6/2026). Harga minyak menjauh dari level terendah tujuh minggu yang disentuh pada sesi sebelumnya.

Harapan dunia untuk melihat situasi Timur Tengah mereda tampaknya harus kembali pupus. Ketegangan geopolitik global kembali meledak setelah militer AS meluncurkan serangan udara baru ke wilayah Iran.

Sontak saja aksi militer ini langsung membakar pasar energi dan menerbangkan harga minyak mentah dunia hingga hampir 1. Langkah agresif Washington ini dilakukan setelah Presiden Donald Trump bersumpah akan membalas jatuhnya helikopter serang Apache milik AS secara tragis.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Meroket dalam Hitungan Jam usai AS Serang Iran Lagi

Eskalasi berdarah ini mengancam bakal menghancurkan kesepakatan gencatan senjata yang baru seumur jagung antara AS dan Teheran. Berdasarkan data pasar komoditas Reuters terbaru, harga minyak mentah Brent langsung merangkak naik 83 sen atau 0,9 ke angka USD92,29 per barel.

Sementara itu minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ikut mendaki 68 sen yang setara 0,8 menjadi USD88,97 per barel. Lonjakan ini memutus tren penurunan harga yang sempat menyentuh level terendah dalam tujuh minggu terakhir pada sesi sebelumnya.

Gencatan Senjata Semu

Situasi di Timur Tengah sebenarnya sempat mendingin setelah Israel dan Iran setuju menghentikan serangan langsung satu sama lain atas desakan Trump. Namun, perdamaian semu itu hancur berantakan.

Teheran menegaskan mereka akan kembali mengangkat senjata jika Israel nekat melanjutkan agresi militernya terhadap milisi Hizbullah di Lebanon. Keengganan Israel untuk menyetop operasi militernya inilah yang menjadi batu sandungan besar bagi Trump untuk memperpanjang gencatan senjata menjadi kesepakatan damai yang permanen.

Baca Juga: Krisis Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Bisa Tembus USD100 per Barel Bertahun-tahun

Hingga detik ini, dampak perang yang paling mencekik ekonomi dunia adalah keputusan Teheran untuk tetap memblokir sebagian besar jalur pelayaran di Selat Hormuz. Padahal selat ini merupakan jalur nadi utama yang mengalirkan seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Sebagai aksi balasan, Washington ikut menerapkan blokade ketat terhadap pelabuhan-pelabuhan milik Iran. Meskipun Menteri Energi AS sempat mengklaim ada sedikit kenaikan lalu lintas kapal tanker di Teluk, situasi di lapangan tetap berada dalam status siaga satu selama kesepakatan damai kedua belah pihak belum ketok palu.

Pasokan Minyak AS Dikuras Habis-habisan

Ketakutan para pelaku ekonomi tidak hanya dipicu oleh situasi di Timur Tengah, melainkan juga oleh kondisi pasokan minyak AS yang mulai kosong. Data terbaru dari American Petroleum Institute (API) membongkar fakta mengkhawatirkan yakni cadangan minyak mentah AS merosot tajam selama delapan minggu berturut-turut!. Cadangan minyak mentah AS anjlok hingga 9,12 juta barel dalam sepekan yang berakhir pada 5 Juni.

Sementara itu menurut sumber yang tidak ingin disebutkan namanya seperti dilansir Reuters, menerangkan stok bahan bakar bensin (gasoline) domestik AS ikut menyusut sebanyak 1,19 juta barel.

Selama tiga bulan perang Timur Tengah berkecamuk, AS bertindak sebagai penyokong darurat yang menggenjot ekspor minyak mereka ke Asia dan Eropa demi menambal kelangkaan pasokan. Jika tangki cadangan AS sendiri kini terkuras habis, maka kemampuan mereka untuk mengekspor minyak akan lumpuh. Efek dominonya? Harga minyak dunia bersiap melesat liar tanpa kendali.

Kondisi ini juga menjadi alarm bahaya untuk harga BBM di Indonesia. Mahalnya harga bahan bakar mulai dirasakan, ketika Pertamina dini hari tadi menaikkan Harga BBM Non-Subsidi yakni untuk Pertamax dan Pertamax Green.

Meskipun pertempuran terjadi ribuan kilometer dari tanah air, melesatnya Brent ke angka USD92 per barel ini mengirimkan sinyal bahaya yang nyata bagi dompet masyarakat Indonesia.

Topik Menarik