Tak Hanya Inklusivitas, Ini Tantangan Industri Perbankan di Perkotaan

Tak Hanya Inklusivitas, Ini Tantangan Industri Perbankan di Perkotaan

Terkini | idxchannel | Jum'at, 5 Juni 2026 - 21:25
share

IDXChannel - Persoalan inklusivitas rupanya bukan menjadi satu-satunya tantangan yang harus dihadapi oleh industri perbankan di wilayah perkotaan, khususnya Ibu Kota.

Hal tersebut diakui oleh PT Bank Pembangunan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta (Bank Jakarta), dengan menekankan bahwa persoalan konektivitas juga menjadi persoalan yang tak kalah penting, dan harus segera dicarikan solusinya.

"Karena itu, fokus kami ke depan adalah bertransformasi sebagai penghubung berbagai elemen pembangunan kota, melalui sistem keuangan yang inklusif dan berkelanjutan," ujar Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H Widodo, dalam Urban Talks BUMD: Katalisator Kota, Akselerator Pembangunan, di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Kegiatan diskusi tersebut menjadi bagian dari rangkaian Jakarta Future Festival 2026, yang sengaja digelar oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta, sebagai wadah koordinasi seluruh elemen terkait, guna mendukung target transformasi DKI Jakarta sebagai kota global.

Terkait target tersebut, Agus menyebut bahwa gambaran Jakarta masa depan tidak hanya diukur dari keberadaan gedung pencakar langit, jaringan transportasi modern, atau teknologi kecerdasan buatan yang semakin berkembang.

Lebih dari itu, kota masa depan harus mampu membangun keterhubungan antarpemangku kepentingan di dalamnya.

"Jakarta tidak kekurangan gedung, jalan, maupun teknologi. Yang masih perlu diperkuat adalah keterhubungan antara warga dengan layanan, UMKM dengan pasar, investor dengan peluang, serta pemerintah dengan masyarakat," ujar Agus.

Jika MRT Jakarta berperan sebagai Mobility Operating System, sementara Transjakarta menjadi platform mobilitas publik dan PAM Jaya mengelola sistem layanan air, maka Bank Jakarta disebut Agus ingin menjadi Financial Operating System bagi Jakarta.

Dalam mewujudkan visi tersebut, Bank Jakarta mengusung empat strategi utama. Pertama, financial inclusion atau inklusi keuangan dengan memastikan seluruh warga Jakarta dapat mengakses layanan keuangan formal secara mudah, aman, dan digital.

"Faktanya masih banyak warga Jakarta yang belum masuk ke dalam sistem keuangan formal. Ini menjadi pekerjaan besar yang harus kami selesaikan," ujar Agus.

Sementara strategi kedua adalah mendorong pertumbuhan UMKM. Agus menegaskan bahwa dukungan kepada pelaku usaha tidak cukup hanya melalui penyaluran kredit, tapi juga dengan membantu mereka masuk ke ekosistem digital, memperluas akses pasar, serta memperkuat rantai pasok. 

"UMKM tidak hanya membutuhkan pinjaman, tetapi juga membutuhkan kesempatan,” ujarnya.

Selanjutnya, Bank Jakarta akan memperkuat program housing inclusion atau akses pembiayaan perumahan.

Agus menjelaskan, salah satu tantangan terbesar generasi muda Jakarta saat ini adalah memiliki rumah yang terjangkau.

"Akses pembiayaan rumah harus menjadi bagian dari strategi kota karena banyak anak muda yang kesulitan menjangkau harga rumah di Jakarta," ujar Agus.

Strategi keempat adalah investment enablement dengan membangun kepercayaan investor untuk menanamkan modal di Jakarta. Agus menilai kota global tidak dapat dibangun hanya mengandalkan APBD, melainkan membutuhkan investasi yang kuat dan berkelanjutan.

"Peran Bank Jakarta bukan sekadar menghimpun dana dan menyalurkan kredit, tapi menjadi penghubung antara warga, UMKM, pemerintah, dan investor dalam satu ekosistem kota," ujar Agus.

Agus juga menekankan pentingnya prinsip no one left behind dalam setiap proses transformasi digital dan pembangunan kota.

Dikatakan Agus, modernisasi dan kemajuan teknologi harus mampu memperluas kesempatan bagi seluruh warga, termasuk pelaku usaha kecil, pedagang kaki lima, hingga keluarga muda yang sedang berjuang memiliki rumah pertama.

"Teknologi tanpa inklusi hanya akan menciptakan kesenjangan yang semakin lebar. Karena itu, transformasi digital harus memberi manfaat bagi mereka yang selama ini tertinggal," ujar Agus.

Agus juga menambahkan, peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) kini telah berkembang dari sekadar menjalankan usaha menjadi penggerak ekosistem pembangunan yang mampu memperluas kesempatan bagi masyarakat.

Bagi Agus, ukuran keberhasilan Jakarta bukan seberapa tinggi gedung yang berdiri, tetapi seberapa banyak mimpi yang dapat diwujudkan oleh warganya. Jika MRT menghubungkan titik-titik kota, maka Bank Jakarta akan menghubungkan peluang-peluang kehidupan.

"Melalui visi tersebut, Bank Jakarta berharap dapat berkontribusi dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota yang tangguh, cerdas, kompetitif secara global, sekaligus memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh warganya," ujar Agus.

(taufan sukma)

Topik Menarik