Ekonom Nilai Pembenahan Defisit Neraca Pembayaran Indonesia Jadi Kunci Stabilitas Rupiah

Ekonom Nilai Pembenahan Defisit Neraca Pembayaran Indonesia Jadi Kunci Stabilitas Rupiah

Terkini | idxchannel | Sabtu, 30 Mei 2026 - 12:24
share

IDXChannel - Nilai tukar rupiah masih dalam tren melemah dan mendekati level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS). Para pelaku pasar kini tertuju pada penguatan sektor fundamental ekonomi domestik.

Salah satu indikator krusial yang dinilai memegang peran vital sebagai jangkar jangka panjang bagi pergerakan mata uang Garuda yaitu kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI).

Ekonom senior dari Bright Institute, Awalil Rizky, menilai pemahaman yang transparan dan objektif mengenai struktur data NPI saat ini sangat penting bagi pemerintah dan otoritas moneter agar dapat merumuskan langkah mitigasi yang lebih presisi, terutama dalam membentengi rupiah dari guncangan eksternal.

"Sulit dipungkiri kondisi umum NPI atau transaksi internasional Indonesia memburuk, termasuk beberapa komponen utamanya. Perlu diketahui bahwa kondisi NPI termasuk faktor fundamental bagi nilai rupiah," kata Awalil Rizky dalam analisisnya, Sabtu (30/5/2026).

Awalil memaparkan bahwa pada kuartal I-2026, NPI mencatatkan defisit sebesar USD9,15 miliar. Kondisi ini dipicu oleh dua komponen utama, yakni Transaksi Berjalan (Current Account) serta Transaksi Finansial.

Pada kluster Transaksi Berjalan, realisasi defisit tercatat sebesar USD4,01 miliar. Kendati angka ini merupakan salah satu yang terlebar untuk periode kuartal pertama dalam tujuh tahun terakhir, pos ini dinilai menyimpan potensi perbaikan yang besar apabila momentum penguatan hilirisasi industri dan substitusi impor energi dapat di akselerasi secara masif.

Di dalam struktur Transaksi Berjalan tersebut, terdapat komponen Neraca Jasa yang mencatat defisit USD4,58 miliar, relatif stabil dan setara dengan pola pergerakan tahun-tahun sebelumnya.

Sementara itu, Neraca Pendapatan Primer mengalami defisit sebesar USD9,15 miliar, yang utamanya dipengaruhi oleh komponen Neraca Pendapatan Investasi sebesar USD8,72 miliar.

Penyebab utama dari defisit di sektor ini adalah tingginya volume pembayaran bunga utang serta repatriasi dividen kepada para pemilik modal asing yang beroperasi di Indonesia. Penguatan regulasi yang mendorong retensi devisa di dalam negeri dinilai bisa menjadi solusi jitu untuk meredam tren ini ke depan.

Di lini kedua, kelompok Transaksi Finansial menorehkan defisit sebesar USD4,93 miliar pada kuartal pertama tahun ini. Awalil mengingatkan bahwa dinamika pada Transaksi Finansial kali ini tidak hanya dipengaruhi oleh perlambatan arus masuk modal asing korporasi (capital inflow), melainkan juga dipicu oleh peningkatan intensitas arus modal penduduk domestik yang bergerak ke luar negeri (capital outflow).

"Sebagai contoh hak dan kewajiban itu berupa pengembalian pokok utang, pembayaran bunga utang, pembayaran keuntungan, dan hal lain yang serupa," kata dia.

Meskipun indikator-indikator makro dari laporan Bright Institute tersebut menunjukkan adanya tantangan struktural yang nyata, situasi ini sekaligus memberikan peta jalan (roadmap) yang jelas bagi Bank Indonesia dan pemerintah.

Data ini menjadi momentum berharga untuk memperkuat bauran kebijakan moneter yang pro-market, memperketat pengawasan lalu lintas devisa, serta memacu efisiensi tata kelola portofolio keuangan nasional.

Melalui sinkronisasi kebijakan yang fokus pada perbaikan pos-pos defisit NPI tersebut, fundamental ekonomi Indonesia diyakini akan tumbuh jauh lebih kokoh, yang pada gilirannya secara otomatis akan mengembalikan daya tarik investasi domestik dan menstabilkan nilai tukar rupiah ke level fundamentalnya yang optimal.

"Uraian di atas memperlihatkan data-data yang tidak mendukung klaim Bank Indonesia atas kondisi NPI yang disebut terjaga," tuturnya.

(Febrina Ratna Iskana)

Topik Menarik