Kunjungan Trump ke China Berisiko Tinggi, Bagaimana Nasib Harga Minyak?
IDXChannel - Data inflasi produsen utama Amerika Serikat (AS) menjadi sorotan masyarakat AS, namun para pedagang telah mengalihkan perhatian mereka ke China sebab Presiden Donalad Trump telah mendarat di negara tersebut.
Dilansir dari laman Investing Kamis (14/5/2026), Trump akan berpartisipasi dalam upacara kedatangan kenegaraan resmi pada hari Kamis, setelah itu ia akan bertemu dengan Xi dan menjalani beberapa diskusi.
Kedua pemimpin tersebut diperkirakan membahas berbagai topik, termasuk perdagangan dan Taiwan. Sebelumnya Trump telah mengatakan bahwa ia akan mendesak Xi untuk membuka China bagi bisnis AS.
Namun, kemungkinan besar pertarungan yang sedang berlangsung antara AS dan Iran akan mendapat lebih banyak perhatian.
Para analis telah menyarankan bahwa China, sebagai importir utama minyak mentah Iran, dapat dibujuk untuk bertindak sebagai penjamin kesepakatan perdamaian yang langgeng, meskipun beberapa pengamat telah menurunkan ekspektasi bahwa terobosan semacam itu dapat terjadi dari pertemuan tersebut.
Jadwal dan Link Live Streaming Atletico Madrid vs Barcelona di Liga Champions 2025-2026, Remontada?
Upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan antara Washington dan Teheran tampaknya telah terhenti. Awal pekan ini, Trump menolak tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian Amerika dan menggambarkannya "tidak dapat diterima" dan "sampah".
Laporan juga beredar mengenai apakah Gedung Putih akan melanjutkan serangan terhadap Iran ataupun tidak. Namun di sisi lain, Teheran belum mengindikasikan bahwa mereka memiliki rencana lebih lanjut untuk menenangkan Trump.
Yang terpenting saat ini adalah kebuntuan Selat Hormuz secara efektif ditutup, seperti yang telah terjadi selama berminggu-minggu. Akibatnya, harga minyak berada jauh di atas level sebelum perang, sekitar 105,87 per barel.
Harga produsen AS mengalami kenaikan bulanan terbesar sejak Maret 2022
Beralih ke kalender ekonomi, inflasi telah menjadi tema utama minggu ini, dengan pelaku pasar menerima data inflasi April pada hari Rabu setelah laporan indeks harga konsumen (CPI) sehari sebelumnya.
Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja, PPI utama AS pada bulan April naik 1,4 persen month to month, kenaikan bulanan terbesar sejak Maret 2022. Secara year to year, inflasi utama melonjak 6 persen, terbesar sejak Desember 2022.
Analis dan ekonom memperkirakan kenaikan 0,5 persen mtmdan 4,9 persen yoy. Data PPI mengikuti data CPI yang juga tinggi pada hari Selasa menunjukkan dampak besar dari lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah. Pembacaan PPI mengindikasikan bahwa lonjakan harga minyak juga meningkatkan biaya produksi.
"PPI pada hari Rabu sangat tinggi karena para produsen merasakan dampak dari harga minyak USD100 per barel, yang meningkatkan biaya produksi secara menyeluruh, karena energi bisa dibilang merupakan biaya input yang paling penting," kata Clark Bellin, Presiden dan Kepala Investasi di Bellwether Wealth.
"Federal Reserve menghadapi masalah inflasi pada saat pasar tenaga kerja melambat, dan itu membuat pekerjaannya jauh lebih sulit, terutama karena bank sentral akan segera menyambut Ketua baru," tutur Bellin, merujuk pada Kevin Warsh, pilihan Presiden Donald Trump untuk menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua Fed, yang masa jabatannya akan berakhir pada hari Jumat.
(kunthi fahmar sandy)










