Pembahasan Stockpile Bahan Bakar untuk Kawasan ASEAN Masih Dalam Tahap Sangat Awal
IDXChannel—Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong mengatakan pembahasan tentang stockpile atau persediaan bahan bakar untuk kawasan ASEAN masih dalam tahap awal dan akan dilanjutkan jika ide tersebut layak direalisasikan.
Melansir CNA (9/5/2026), sebelumnya, persediaan bahan bakar regional untuk ASEAN adalah salah satu ide baru yang diusulkan negara anggota dalam KTT ASEAN ke-48 yang diselenggarakan di Filipina.
ASEAN telah memiliki stockpile untuk beras melalui ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve, melibatkan tiga negara Asia Timur, yakni: China, Jepang, dan Korea Selatan. Beras cadangan ini dapat dilepas saat bencana tanpa mengganggu harga pasaran.
“Jadi, pertanyaannya adalah apakah kita bisa melakukan hal yang sama untuk bahan bakar, baik dilakukan antarnegara ASEAN maupun dengan mitra eksternal. Ide ini sempat didiskusikan para pemimpin negara saat pertemuan, tetapi belum sepenuhnya dirinci,” kata Wong.
Para menteri dari negara anggota perlu berdiskusi lebih lanjut. Pembicaraan tentang stockpile bahan bakar ini dapat berlanjut jika negara-negara anggota menunjukkan ketertarikan. Wong mengatakan diskusi ini akan dilanjutkan pada pertemuan ASEAN berikutnya pada November atau tahun depan.
Sebelumnya, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. mengungkapkan kepada awak media bahwa pemimpin negara ASEAN mendiskusikan mekanisme untuk memiliki cadangan beragam jenis bahan bakar, di mana negara anggota dapat saling berbagi.
“Situasi tiap negara berbeda-beda. Ada negara yang surplus jenis bahan bakar tertentu, ada yang justru kekurangan, dan kami berupaya untuk menyeimbangkannya,” tutur Marcos pada Jumat (8/5/2026).
Stockpile bahan bakar ini berguna bagi negara anggota sebagai cadangan darurat jika terjadi kondisi genting, seperti perang Timur Tengah yang mengakibatkan penutupan Selat Hormuz.
Pada sesi pleno KTT ASEAN ke-48, PM Singapura Lawrence Wong juga menyerukan ratifikasi cepat atas perjanjian yang memungkinkan negara anggota untuk saling mendukung kebutuhan migas saat terjadi gangguan pasokan. Ratifikasi ini terakhir diperbarui pada 2025.
(Nadya Kurnia)









