Bukan Kasus Baru: Kemenkes Catat 23 Kasus Hantavirus dalam 3 Tahun di Indonesia, 3 Orang Meninggal

Bukan Kasus Baru: Kemenkes Catat 23 Kasus Hantavirus dalam 3 Tahun di Indonesia, 3 Orang Meninggal

Terkini | inews | Sabtu, 9 Mei 2026 - 20:25
share

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat total 23 kasus infeksi Hantavirus di Indonesia dalam tiga tahun terakhir. Dari jumlah tersebut, terdapat 3 kasus yang berujung pada kematian.

Berdasarkan sebaran wilayah, kasus Hantavirus paling banyak ditemukan di Pulau Jawa. DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta masing-masing melaporkan 6 kasus, disusul Jawa Barat dengan 5 kasus. Sementara itu, Banten dan Jawa Timur masing-masing mencatat 1 kasus.

Di luar Pulau Jawa, kasus juga ditemukan di beberapa wilayah lain. Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur masing-masing melaporkan 1 kasus infeksi Hantavirus. Dalam tren perkembangan, jumlah kasus menunjukkan fluktuasi pada periode 2024 hingga 2026, dengan rincian 2024 tercatat 1 kasus, 2025 naik menjadi 17 kasus, dan 2026 sebanyak 5 kasus yang masih dalam data berjalan.

Dari sisi medis, jenis Hantavirus yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah Seoul Virus. Sementara itu, jenis Andes Virus yang sempat dikaitkan dengan wabah di luar negeri hingga saat ini belum ditemukan di Indonesia. Seluruh pasien di Indonesia terdiagnosis mengalami Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS) atau demam berdarah dengan sindrom ginjal yang dapat memengaruhi fungsi organ ginjal secara serius.

Kekhawatiran masyarakat terhadap kemunculan kasus ini turut mencuat di tengah publik. Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono, menyebut kasus Hantavirus bukan hal baru di Indonesia.

“Kalau kita amati dari tahun ke tahun selalu ada. Jadi kasus itu, kasus virus Hanta itu ada di Indonesia lama, itu kan bukan virus baru,” ujar Pandu saat dihubungi iNews, Jumat (8/5/2026).

Pandu menjelaskan penularan virus ini berasal dari hewan pengerat atau tikus yang kerap berada di lingkungan manusia. Kontaminasi dapat terjadi melalui kotoran atau urine tikus yang mengenai barang, makanan, hingga terhirup dalam bentuk debu.

“Pada umumnya itu masih ditularkan dari Rodent atau tikus. Itu media kencingnya atau tai-nya mengkontaminasi barang-barang di tempat kita hidup atau makanan kita, kita megang, kita hirup debunya,” ucapnya.

Ia juga menyebut kelompok rentan lebih berisiko mengalami dampak yang lebih berat. Kelompok tersebut di antaranya penderita penyakit kronis hingga lansia.

“Kalau ada orang yang memang kondisinya nggak sehat, punya penyakit jantung, punya penyakit diabetes atau lansia itu akan rentan sekali terkena penyakit flu apapun termasuk flu Hanta ini,” ujar Pandu.

Meski demikian, gejala Hantavirus umumnya dapat pulih dengan pengobatan sesuai kondisi pasien. “Kalau orang itu nggak cukup bagus imunitasnya, kemungkinan dia akan mengalami gejala seperti flu, gitu. Tapi pada umumnya sih nggak berat, jadi bisa sembuh sendiri,” katanya.

Sementara itu, Kemenkes sebelumnya mengonfirmasi adanya dua suspek Hantavirus di Indonesia yang ditemukan di Jakarta dan Yogyakarta. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyebut kedua pasien tersebut kini telah dinyatakan sembuh.

“Benar ada dua suspek,” kata Aji saat dikonfirmasi oleh iNews Media Group melalui aplikasi percakapan, Jumat (8/5/2026).

“Tapi hari ini saya dapat info keduanya sudah negatif dan sembuh,” ujarnya.

Topik Menarik