Menakar Efek Rekor Wall Street ke Pasar Indonesia, Analis Soroti Saham Ini

Menakar Efek Rekor Wall Street ke Pasar Indonesia, Analis Soroti Saham Ini

Ekonomi | idxchannel | Sabtu, 9 Mei 2026 - 13:00
share

IDXChannel – Reli penguatan bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street dinilai berpotensi menjadi katalis baru bagi pasar saham Indonesia yang tengah berusaha pulih.

Di tengah minimnya arus dana asing, saham konglomerasi likuid, emiten telekomunikasi, hingga perusahaan berbasis pendapatan dolar AS disebut berpeluang menjadi motor penggerak pasar.

Chief Strategist Officer Sucor Sekuritas Arief Putra menulis, dalam riset yang terbit pada 6 Mei 2026, indeks Nasdaq baru saja mencetak rekor tertinggi baru, sementara S&P 500 kembali menguji level puncaknya.

Menurut dia, optimisme pasar global masih ditopang tingginya minat investor terhadap sektor teknologi dan kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI).

Arief berpendapat, potensi IPO besar seperti SpaceX dan Anthropic pada semester II-2026 dapat menjadi katalis baru bagi reli pasar AS, meski valuasinya sudah sangat tinggi.

Dia menilai kondisi tersebut turut menjadi sentimen positif bagi pasar saham domestik, di tengah mulai meredanya kekhawatiran terkait peringatan MSCI, potensi penurunan sovereign rating Indonesia, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Menurut Arief, kembalinya arus modal asing secara besar-besaran ke Indonesia masih sulit terjadi dalam waktu dekat.

Karena itu, saham-saham konglomerasi dengan likuiditas tinggi dan narasi pertumbuhan kuat diperkirakan lebih banyak diburu investor lokal.

Sucor menilai saham seperti PT Alamtri Resources Indonesia (ADRO), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) berpotensi kembali menjadi fokus pasar setelah ada kejelasan terkait keputusan MSCI.

Khusus BREN, pergerakan saham diperkirakan lebih menarik setelah tekanan jual mereda apabila saham tersebut dikeluarkan dari MSCI Indonesia Standard Index.

Arief juga menilai ADRO dan BREN berpotensi mendapat sentimen tambahan jika pemerintah mempercepat penerbitan izin ekspor energi terbarukan guna memperkuat cadangan devisa dan menopang nilai tukar rupiah.

Di sektor telekomunikasi dan teknologi, PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX) disebut menawarkan prospek menarik seiring rencana rights issue senilai sekitar Rp3,7 triliun.

Mayoritas dana hasil aksi korporasi itu akan digunakan untuk mengakuisisi hak komersial eksklusif sejumlah selebritas untuk kebutuhan iklan digital berbasis AI.

“Platform IRSX dinilai memiliki keunggulan biaya dan jaringan distribusi digital yang lebih kuat dibanding pemain konvensional,” tulis Arief.

Selain IRSX, Sucor Sekuritas juga menjagokan PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), dan PT Mastersystem Infotama Tbk (MSTI) untuk sektor teknologi dan telekomunikasi.

Sementara itu, emiten berbasis pendapatan dolar AS dinilai menarik sebagai lindung nilai terhadap pelemahan rupiah yang masih berlanjut.

Sejak awal tahun, rupiah tercatat telah melemah sekitar 3,5 persen terhadap dolar AS akibat kekhawatiran investor terhadap ketahanan fiskal Indonesia.

Emiten seperti AMMN, ANTM, INCO, AADI, BULL, dan INKP dinilai berada dalam posisi yang diuntungkan karena permintaan produk utama mereka masih kuat sekaligus memperoleh manfaat dari pelemahan rupiah.

Sucor Sekuritas menilai berbagai langkah pemerintah untuk menjaga stabilitas fiskal memang mulai dilakukan, namun pemulihan penuh kepercayaan investor diperkirakan masih membutuhkan waktu. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik