Deretan Saham Big Cap Jadi Sasaran Jual Asing Pekan Ini

Deretan Saham Big Cap Jadi Sasaran Jual Asing Pekan Ini

Ekonomi | idxchannel | Sabtu, 9 Mei 2026 - 12:00
share

IDXChannel - Tekanan jual investor asing membayangi perdagangan saham domestik sepanjang sepekan terakhir, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap sentimen global dan domestik.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar hingga emiten tambang tercatat menjadi sasaran aksi jual asing dengan nilai ratusan miliar rupiah.

Berdasarkan data pasar, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi saham dengan net foreign sell terbesar, mencapai Rp1,60 triliun.

Meski demikian, harga saham BMRI masih menguat 5,47 persen dalam sepekan ke level Rp4.630 per saham.

Di posisi berikutnya, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat jual bersih asing sebesar Rp465,73 miliar. Berbeda dengan mayoritas saham lain, BBCA masih mampu mencatat kenaikan mingguan 5,56 persen ke Rp6.175 per saham.

Tekanan jual asing juga terlihat pada saham PT Petrosea Tbk (PTRO) sebesar Rp182,31 miliar dengan harga saham berada di Rp5.050 per saham.

Sementara itu, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dibukukan mengalami net foreign sell Rp157,35 miliar. Saham CUAN melemah 6,67 persen dalam sepekan ke level Rp1.120 per saham.

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) juga masuk daftar saham yang paling banyak dilepas investor asing dengan jual bersih Rp133,71 miliar. Harga saham GOTO turun 7,41 persen menjadi Rp50 per saham.

Di sektor tambang, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mencatat net foreign sell Rp132,71 miliar dan anjlok 18,89 persen ke Rp1.310 per saham.

Kemudian saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dibukukan mengalami jual bersih asing Rp115,94 miliar. Saham AMMN terkoreksi 17,45 persen menjadi Rp4.210 per saham.

Tekanan serupa terjadi pada saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang mencatat net foreign sell Rp112,81 miliar dengan pelemahan harga saham 10 persen ke Rp216 per saham.

Demikian pula, saham PT Astra International Tbk (ASII) mencatat jual bersih asing Rp103,94 miliar. Harga saham ASII turun 2,51 persen ke Rp5.825 per saham.

Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga dilepas asing senilai Rp98,48 miliar dan turun 13,93 persen menjadi Rp2.780 per saham.

Sementara itu, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menjadi salah satu yang terkoreksi paling dalam. Net foreign sell pada saham INCO mencapai Rp88,30 miliar, seiring penurunan harga saham 20,80 persen ke Rp5.425 per saham.

Sebelumnya, pergerakan IHSG sepanjang pekan ini dibayangi kombinasi sentimen global dan domestik, mulai dari memanasnya tensi geopolitik hingga rencana kenaikan royalti sektor tambang.

Meski masih membukukan kenaikan mingguan tipis, tekanan jual asing membuat laju indeks tertahan menjelang pengumuman rebalancing MSCI pekan depan.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup turun 2,86 persen ke level 6.969,40 pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Dengan pelemahan tersebut, kenaikan mingguan IHSG menyusut menjadi hanya menguat 0,18 persen.

Investor asing membukukan jual bersih Rp485 miliar di pasar reguler pada Jumat dan mencapai Rp2,44 triliun sepanjang sepekan terakhir.

Phintraco Sekuritas mencatat, tekanan pasar dipicu oleh koreksi bursa global seiring kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas geopolitik global.

Dari dalam negeri, pasar juga mencermati rencana pemerintah merevisi tarif royalti progresif untuk sejumlah komoditas logam seperti nikel, tembaga, emas, perak, dan timah.

Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menekan prospek emiten tambang, terutama di tengah tingginya harga komoditas global.

Selain itu, cadangan devisa Indonesia tercatat turun menjadi USD146,2 miliar pada April 2026, dari USD148,2 miliar pada Maret 2026. Posisi tersebut menjadi yang terendah sejak Juli 2024.

Meski demikian, level cadangan devisa masih dinilai aman karena setara pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang pemerintah.

Tekanan lain datang dari sektor properti. Indeks harga properti residensial hanya tumbuh 0,62 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2026, melambat dibandingkan pertumbuhan 0,83 persen yoy pada kuartal IV-2025.

Angka tersebut juga menjadi laju pertumbuhan terendah sejak 2003.

Memasuki pekan depan, pelaku pasar akan menantikan sejumlah data ekonomi domestik, mulai dari indeks keyakinan konsumen, penjualan ritel, hingga penjualan sepeda motor, untuk membaca arah daya beli masyarakat.

Di saat yang sama, perhatian investor juga tertuju pada pengumuman rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026. (Aldo Fernando)

Topik Menarik