BPS Ungkap Kondisi dan Prospek Industri Manufaktur RI Masih Ekspansi di Kuartal I-2026

BPS Ungkap Kondisi dan Prospek Industri Manufaktur RI Masih Ekspansi di Kuartal I-2026

Terkini | idxchannel | Selasa, 5 Mei 2026 - 13:54
share

IDXChannel - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan yang menunjukkan bahwa industri manufaktur nasional masih menunjukkan tren pertumbuhan positif sepanjang kuartal I- 2026. Temuan ini didasarkan pada data Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Manufaktur Indonesia (IKBM) yang perdana disajikan kepada publik. 

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, memaparkan bahwa nilai IKBM pada periode tersebut mencapai 51,37. Mengingat angka di atas 50 menjadi indikator pertumbuhan, capaian ini menegaskan bahwa sektor tersebut tengah berkembang.

“Pada triwulan I-2026, IKBM tercatat sebesar 51,37 yang menunjukkan bahwa sektor industri manufaktur berada pada fase ekspansi,” ungkapnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Lebih lanjut, Amalia merinci bahwa dari lima elemen penyusun IKBM, mayoritas berada dalam kondisi ekspansif, yakni komponen pesanan (52,69), produksi (51,78), persediaan bahan baku (51,54), serta tenaga kerja (50,57).

Namun, ada satu komponen yang mencatatkan kontraksi, yakni waktu pengiriman pemasok, dengan indeks berada di level 49,01. “Secara komponen, hampir seluruh pembentuk indeks IKBM menunjukkan pada kondisi ekspansi, kecuali untuk komponen waktu pengiriman yang mengalami kontraksi,” kata Amalia.

Amalia menjelaskan bahwa IKBM diciptakan untuk menyajikan potret yang lebih mendalam mengenai situasi dan prospek sektor industri pengolahan di Indonesia. Indeks ini dirancang melalui survei berkala terhadap industri berskala besar dan menengah, baik yang beroperasi di dalam maupun luar kawasan industri dan ekonomi khusus, dengan menggunakan teknik probability sampling serta estimasi tingkat nasional.

Ia juga menguraikan lima pilar utama yang membentuk IKBM, yaitu pesanan, produksi, tenaga kerja, waktu pengiriman, serta persediaan bahan baku. Komponen pesanan mencakup total pesanan domestik maupun mancanegara yang diperoleh pelaku usaha, sedangkan produksi diukur dari volume barang yang dihasilkan. 

Komponen tenaga kerja merujuk pada rata-rata jumlah karyawan, sementara waktu pengiriman merupakan durasi penerimaan material dari supplier.

“Kelima adalah jumlah persediaan bahan baku, yang diukur dari jumlah persediaan bahan baku yang disimpan oleh perusahaan,” ujar Amalia.

(Febrina Ratna Iskana)

Topik Menarik