Wall Street Dibuka Melemah di Tengah Ketidakpastian Geopolitik, AI Kembali Picu Kekhawatiran
IDXChannel - Indeks utama Wall Street melemah pada Kamis (23/4/2026) seiring investor menunggu sinyal yang lebih jelas terkait perang AS-Iran. Sementara itu, laporan keuangan yang beragam kembali memicu kekhawatiran tentang disrupsi yang didorong AI di sektor perangkat lunak.
Iran memperketat kontrol atas Selat Hormuz setelah Teheran merilis rekaman pasukan komando mereka yang menyerbu sebuah kapal kargo besar yang diklaim telah mereka sita pada Rabu, sambil menuntut AS mencabut blokade lautnya terhadap pelabuhan Iran.
Melansir Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 154,00 poin atau 0,30 persen ke 49.341,55, S&P 500 turun 6,61 poin atau 0,10 persen ke 7.131,08, dan Nasdaq Composite turun 57,27 poin atau 0,26 persen ke 24.593,45.
Dengan harga minyak di atas USD100 per barel, risiko lonjakan inflasi juga tetap ada.
Data pada Kamis menunjukkan, jumlah warga AS yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran hanya sedikit mengalami peningkatan, tetapi risiko kenaikan harga akibat perang tetap mengancam ekonomi.
Sementara itu, musim laporan keuangan sejauh ini tergolong kuat. Namun, belum mencerminkan dampak dari guncangan pasokan energi.
Saham IBM anjlok 12 persen setelah pertumbuhan pendapatan melambat pada kuartal pertama akibat melemahnya di bisnis perangkat lunak.
Hasil ini kembali memicu kekhawatiran bahwa model bisnis tradisional di sektor software dapat terganggu oleh alat-alat AI baru.
Saham Microsoft dan Adobe masing-masing turun 2,6 persen dan 7,3 persen.
Sektor teknologi informasi di S&P 500, yang turun 0,6 persen, menjadi penekan terbesar indeks acuan, meskipun kenaikan 1,8 persen di sektor utilitas membantu membatasi penurunan.
Pelemahan saham teknologi juga menyeret Dow dan Nasdaq ke bawah.
Saham Tesla turun 3,8 persen setelah perusahaan menaikkan rencana belanja lebih dari USD25 miliar tahun ini.
Perusahaan tersebut sedang menjalankan salah satu investasi terbesar dalam sejarahnya, karena CEO Elon Musk mengalihkan dana ke bidang kecerdasan buatan, robotika, dan chip.
Saham Lockheed Martin turun 3,7 persen setelah melaporkan laba kuartal pertama yang lebih rendah.
Sebaliknya, saham Texas Instruments melonjak 10,5 persen setelah memproyeksikan pendapatan dan laba kuartal kedua di atas ekspektasi Wall Street.
Saham Tilray Brands dan Canopy Growth masing-masing naik 5,8 persen dan 6,5 persen.
Jumlah saham yang naik lebih banyak daripada yang turun dengan rasio 1,04 banding 1 di NYSE dan 1,51 banding 1 di Nasdaq.
S&P 500 mencatat 28 saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 5 terendah baru, sementara Nasdaq mencatat 74 tertinggi baru dan 41 terendah baru.
(NIA DEVIYANA)









