Bahlil Dampingi Prabowo ke Rusia, Bawa Misi Diplomasi Energi di Tengah Keterbatasan Migas
IDXChannel - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menekankan misi ketahanan energi dalam lawatannya bersama Presiden Prabowo Subianto ke Rusia. Indonesia mengusung diplomasi energi di tengah keterbatasan pasokan minyak dan gas akibat tensi geopolitik di Timur Tengah.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia mengatakan, kehadiran Bahlil dalam kunjungan tersebut menegaskan peran penting sektor energi dalam mendukung kepentingan nasional di tengah dinamika global. Dia menilai momentum ini juga membuka ruang untuk memperluas peluang kolaborasi yang lebih konkret ke depan.
"Kunjungan kerja ini merupakan lanjutan kemitraan antara kedua negara. Bagi Indonesia, hal ini penting untuk menjaga ketahanan energi nasional dalam jangka panjang," ujar Dwi dalam keterangan resmi, Senin (13/4/2026).
Bahlil berangkat mendampingi Prabowo dalam kunjungan kerja ke Moskow, Rusia, pada Minggu (12/4/2026) malam. Agenda ini menjadi bagian dari penguatan kemitraan strategis Indonesia-Rusia, dengan salah satu prioritasnya adalah diplomasi energi guna memperluas kerja sama bilateral yang saling menguntungkan.
Langkah diplomasi energi ke Rusia tak terlepas dari tantangan distribusi minyak dan gas. Sejumlah kapal tanker milik Pertamina dilaporkan mengalami kendala melintasi Selat Hormuz di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah. Di sisi lain, hubungan diplomatik Rusia dan Iran yang relatif baik diharapkan dapat membuka alternatif jalur perdagangan energi.
Berdasarkan data Worldometer, Rusia memiliki cadangan minyak terbukti sekitar 80 miliar barel pada 2025. Jumlah tersebut menempatkan Rusia di peringkat ke-9 dunia dan menyumbang sekitar 4,53 persen dari total cadangan global. Cadangan ini diproyeksikan cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik hingga 58–62 tahun ke depan pada tingkat produksi saat ini.
Sejauh ini, Kementerian ESDM juga mengupayakan penerapan program mandatori biodiesel 50 persen (B50) sebagai langkah mengantisipasi keterbatasan energi. Pemerintah mencampur 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dengan 50 persen solar. Kebijakan ini diharapkan dapat menciptakan surplus stok gasoil di dalam negeri.
"Sekalipun kita tahu bahwa ketegangan geopolitik belum jelas kapan berakhir, dan sejumlah negara telah mengambil berbagai kebijakan efisiensi, cadangan BBM kita masih berada di atas standar minimal nasional," kata Bahlil.
Di sisi lain, Kementerian ESDM juga akan mempercepat kajian kebijakan untuk menyesuaikan diri dengan pergerakan harga energi dunia yang dinamis, khususnya di sektor migas.
Bahlil menegaskan pemerintah tidak melakukan penyesuaian harga BBM subsidi. Harga Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) dan Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) tetap dipertahankan. Sementara itu, untuk Jenis Bahan Bakar Umum (JBU) atau BBM nonsubsidi, pembahasannya masih dilakukan bersama badan usaha niaga BBM.
"Stabilitas ini tidak bisa dijaga sendiri oleh pemerintah. Perlu dukungan dan kerja sama seluruh masyarakat dengan menggunakan BBM secara bijak agar ketersediaan energi tetap aman dan merata," katanya.
(Rahmat Fiansyah)










