Kebijakan B50 Jadi Katalis, Intip Prospek Tiga Saham Sawit Ini
IDXChannel - Kebijakan mandatori biodiesel B50 yang akan berlaku mulai 1 Juli 2026 dinilai memperkuat prospek harga minyak sawit mentah (CPO).
Riset Indo Premier Sekuritas yang terbit pada 7 April 2026 menyebutkan kebijakan ini berpotensi memperketat pasokan global dan mendorong kenaikan harga CPO dalam beberapa tahun ke depan.
Analis Indo Premier Sekuritas menyebutkan, penerapan B50 diperkirakan menyerap sekitar 3 juta ton CPO per tahun atau sekitar 4 persen dari permintaan global, sehingga mendukung tren kenaikan harga.
Untuk 2026, Indo Premier menaikkan proyeksi harga rata-rata CPO menjadi MYR4.600 per ton atau naik 13 persen dari estimasi sebelumnya dan tumbuh sekitar 8 persen secara tahunan.
Untuk 2027-2028, harga CPO diperkirakan naik menjadi sekitar MYR5.000 per ton per tahun, didorong oleh implementasi penuh B50, potensi pengetatan pasokan akibat El Niño, serta melemahnya produktivitas tandan buah segar (FFB) dari lahan yang kurang terkelola.
Proyeksi ini didasarkan pada pola kenaikan harga rata-rata CPO saat kebijakan biodiesel sebelumnya diberlakukan.
Indo Premier menjelaskan, kebijakan B50 juga bertujuan memperkuat ketahanan energi Indonesia di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah, dengan dukungan subsidi yang lebih jelas seiring harga minyak di kisaran USD100 per barel dan kenaikan pungutan ekspor sebesar 2,5 persen pada awal Maret 2026.
Kebutuhan FAME (bahan baku biodiesel berbasis minyak sawit) diperkirakan dipenuhi melalui peningkatan utilisasi kapasitas hingga 87 persen pada 2026 dan 100 persen pada 2027, sementara kebutuhan metanol masih mengandalkan impor karena kapasitas domestik baru mencakup sekitar 20 persen kebutuhan.
Seiring kenaikan harga, Indo Premier menaikkan estimasi laba sektor sawit 2026-2027 sebesar 15-20 persen.
Laba sektor diperkirakan tumbuh 13 persen pada 2026 dan 2 persen pada 2027, meskipun biaya pembelian eksternal, pupuk, dan potensi penurunan volume akibat El Niño tetap menjadi tekanan.
Pada 2028, laba inti sektor diproyeksikan tumbuh sekitar 6 persen, didukung penurunan biaya pupuk dan stabilnya volume produksi.
Siaga 1, Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS hingga Harga Minyak Diprediksi USD200 per Barel
Secara keseluruhan, Indo Premier kini memperkirakan pertumbuhan laba sektor sawit mencapai CAGR 7 persen pada periode 2025-2028, jauh membaik dibandingkan proyeksi sebelumnya yang masih negatif.
Dengan prospek harga yang lebih kuat, Indo Premier meningkatkan rekomendasi sektor sawit menjadi overweight dari sebelumnya netral.
Valuasi sektor saat ini dinilai masih menarik dengan kisaran 7 kali price to earnings (P/E) 2026 dan 0,5 kali PEG (rasio price earnings terhadap pertumbuhan laba) 2026, sehingga membuka ruang re-rating.
Indo Premier juga menaikkan rekomendasi sejumlah saham, yakni TAPG dan LSIP menjadi beli (buy), sementara AALI tetap hold karena potensi penurunan laba pada 2026 akibat tingginya pembelian eksternal.
Indo Premier menempatkan TAPG sebagai saham pilihan utama (top pick), disusul DSNG dan LSIP.
TAPG menjadi pilihan utama karena proyeksi pertumbuhan laba mencapai 27 persen pada 2026, valuasi PEG 2026 hanya 0,3 kali, eksposur pembelian pihak ketiga yang rendah, serta dividen yang menarik.
DSNG berada di posisi kedua dengan pertumbuhan laba sekitar 20 persen dan PEG 0,4 kali, sedangkan LSIP dinilai mulai menarik karena berpotensi mencatat pertumbuhan laba positif pada 2026-2027.
IHSG Sesi I Ditutup Anjlok 3,4 ke 7.321
Indo Premier mengingatkan, risiko utama sektor ini tetap berasal dari ketegangan geopolitik yang berkepanjangan serta perubahan kebijakan dan regulasi yang dapat memengaruhi implementasi B50 dan stabilitas harga CPO. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.










