RI Tingkatkan Penggunaan Aspal Buton Jadi 30 Persen pada 2026, Wajib bagi Kontraktor
IDXChannel - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bakal mengurangi penggunaan aspal impor mulai 2026 dengan memanfaatkan produk aspal buatan dalam negeri, terutama Buton sebagai material konstruksi. Untuk tahun ini, impor aspal ditargetkan dapat berkurang 26 persen dibandingkan 2025.
Pada tahun ini, porsi aspal Buton ditargetkan bisa meningkat menjadi 30 persen, sehingga aspal impor dikurangi menjadi 52 persen. Kementerian PU mewajibkan kontraktor lokal untuk menggunakan aspal lokal, terutama aspal Buton.
Menteri PU, Dody Hanggodo mengatakan, saat ini penggunaan aspal impor mencapai 78 persen. Sementara aspal Buton baru 4 persen dan sisanya berasal dari aspal minyak lokal.
"Kalau dibandingkan dengan impor selalu mudah (prosesnya) dan, tadi disebut mafia, harus diakui karena mudah, hari ini Presiden komitmen baru bagaimana harus lebih memanfaatkan apa yang kita punya untuk kemakmuran rakyat," ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Kementerian PU, Jakarat, Kamis (2/4/2026).
Dody mengatakan, pemangkasan impor aspal akan berdampak langsung terhadap penghematan devisa negara sekitar Rp4,08 triliun per tahun. Selain itu, negara juga akan memperoleh tambahan pajak dalam negeri sebesar Rp1,6 triliun per tahun.
"Selain itu kebijakan ini juga mendorong pengembangan industri pengolahan aspal Buton," katanya.
Dody menegaskan, kebijakan pengurangan impor aspal dilatarbelakangi kondisi global yang tengah bergejolak. Dia mengutip pernyataan Prabowo Subianto mengenai dinamika geopolitik dunia yang memicu lonjakan harga energi serta gangguan pasokan global.
Menurutnya, kondisi tersebut berdampak langsung pada sektor infrastruktur, khususnya terhadap harga material strategis seperti aspal. Fluktuasi harga minyak dunia dinilai meningkatkan risiko biaya pembangunan yang tidak terkendali.
“Kondisi ini memberi pesan yang sangat jelas bahwa ketergantungan adalah sebuah risiko, dan dalam pembangunan nasional risiko harus kita kelola dengan disiplin agar biaya tidak meledak,” ujarnya.
Dody menjelaskan, kebutuhan aspal nasional saat ini mencapai sekitar 1 juta ton per tahun dan diproyeksikan meningkat menjadi 1,5 juta ton pada tahun-tahun mendatang. Namun, hampir 80 persen kebutuhan tersebut masih bergantung pada aspal impor.
Padahal, Indonesia memiliki cadangan asbuton yang sangat besar di Pulau Buton, tetapi pemanfaatannya masih terbatas, yakni baru sekitar 4 persen dari total kebutuhan nasional.
"Ini adalah peluang besar bagi kita untuk semakin berdiri di atas kaki sendiri. Sesuatu yang wajib kita optimalkan secara bersama,” kata Dody.
(Rahmat Fiansyah)










