Wall Street Menguat, Nasdaq Naik 2 Persen Terdorong Harapan Deeskalasi Iran

Wall Street Menguat, Nasdaq Naik 2 Persen Terdorong Harapan Deeskalasi Iran

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 31 Maret 2026 - 23:10
share

IDXChannel – Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, dibuka menguat pada  perdagangan Selasa (31/3/2026). Hal itu karena pernyataan Presiden Donald Trump bahwa ia akan terbuka untuk mengakhiri perang di Iran tanpa membuka kembali Selat Hormuz secara besar-besaran.

Pada pukul 10:12 ET (14:12 GMT), indeks acuan S&P 500 naik 1,5 persen menjadi 6.438,46 poin, NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi naik 1,9 persen menjadi 21.196,69 poin, dan Dow Jones Industrial Average yang didominasi saham blue-chip bertambah 1,3 persen menjadi 45.794,11 poin.

Indeks utama di Wall Street mencatat penutupan yang beragam pada Senin kemarin. Baik S&P 500 maupun Nasdaq turun, sementara Dow mencatat kenaikan tipis yang cukup untuk mendorongnya keluar dari wilayah koreksi.

Wall Street Journal melaporkan bahwa Trump akan terbuka untuk mengakhiri kampanye militer yang telah berlangsung lebih dari sebulan meskipun Iran memegang kendali penuh atas Selat Hormuz yang penting.

Penutupan efektif selat tersebut selama beberapa minggu telah memicu lonjakan tajam harga minyak global dan kekhawatiran akan resesi di berbagai negara di dunia.

Trump dan para pembantunya telah menilai bahwa misi untuk membuka blokade selat akan mendorong jangka waktu serangan melampaui jangka waktu empat hingga enam minggu yang telah ditetapkannya, lapor WSJ.

Trump malah memutuskan bahwa AS harus menyerang angkatan laut dan persediaan rudal Iran dengan keras dan mengejar pengurangan permusuhan sambil menekan Teheran melalui diplomasi, catat laporan tersebut.

Mengutip pejabat pemerintah, Washington akan mengandalkan sekutu di Eropa dan Teluk Persia untuk memimpin di selat tersebut jika upaya itu gagal.

Selat Hormuz telah menjadi titik fokus utama perang AS-Israel terhadap Iran, dengan Teheran secara efektif memblokir jalur tersebut dengan ranjau dan serangan rudal. Sekitar seperlima dari minyak dunia mengalir melalui jalur air sempit di lepas pantai selatan Iran tersebut.

Pekan lalu, Trump menetapkan tenggat waktu 6 April 2026 bagi Teheran untuk membuka kembali selat tersebut atau menghadapi serangan AS terhadap infrastruktur energi dan air utamanya. Namun, Iran sebagian besar menolak seruan untuk membuka blokade selat tersebut dan telah menyerang kapal tanker yang mencoba melewati Hormuz dalam sebulan terakhir.

Penutupan tersebut telah memicu peningkatan tajam harga minyak dan gas global selama sebulan terakhir, memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi di berbagai negara di dunia dan mengancam akan membebani sejumlah industri.

Harga Brent Berfluktuasi di sekitar USD115

Di sisi lain, kontrak berjangka minyak mentah Brent yang berakhir pada Mei terakhir kali berada di sekitar USD118,54 per barel, dibandingkan dengan level sebelum perang sekitar USD70 per barel. Brent berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan persentase kuartalan terbesar sejak Perang Teluk pada 1990.

Sementara itu, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 0,4 persen menjadi USD102,37 per barel.

Kekhawatiran meluas bahwa guncangan energi akan memicu tekanan inflasi di berbagai negara di dunia, kekhawatiran yang diperkuat oleh data pada Selasa yang menunjukkan lonjakan pertumbuhan harga konsumen menjadi 2,5 persen di zona mata uang Euro pada bulan Maret.

Kenaikan ini lebih tinggi dari kenaikan 1,9 persen pada Februari dan melampaui target jangka menengah Bank Sentral Eropa sebesar 2 persen.

Harga bensin AS juga telah melampaui USD4 per galon untuk pertama kalinya sejak 2022, sebuah pukulan bagi konsumen Amerika meskipun ada harapan bahwa status negara tersebut sebagai pengekspor energi bersih akan membantu melindunginya dari lonjakan harga energi.

Potensi lonjakan inflasi serupa di negara lain telah memicu spekulasi bahwa banyak bank sentral akan mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang, sebuah prospek yang telah mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan menekan pasar saham.

Selama periode satu bulan terakhir, S&P 500 telah turun lebih dari 7 persen, sebuah akhir yang suram untuk kuartal pertama yang awalnya diharapkan oleh banyak pelaku pasar pada Januari akan didukung oleh aktivitas ekonomi yang kuat, kemungkinan penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed), dan memudarnya ketidakpastian seputar tarif AS. Sebaliknya, saham di AS berada di jalur untuk kuartal terburuk mereka dalam hampir empat tahun.

Tingkat Perekrutan Tenaga Kerja di AS Turun

Indikator kepercayaan konsumen utama sedikit meningkat pada Maret menjadi 91,8, melampaui angka konsensus. Namun, mengingat guncangan harga minyak, ekspektasi inflasi rata-rata responden survei untuk tahun depan melonjak pada Maret ke level yang terakhir terlihat pada Agustus 2025.

Secara terpisah, laporan JOLTS terbaru dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan 6,882 juta lowongan pekerjaan pada Februari, sedikit lebih rendah dari angka revisi Januari sebesar 7,240 juta dan perkiraan jumlah sebesar 6,918 juta.

Yang perlu diperhatikan, tingkat perekrutan pada Februari sedikit turun menjadi 3,1 persen, tingkat terendah sejak April 2020.

"Ini adalah resesi perekrutan. Dan orang Amerika merasakannya. Ada penurunan perekrutan yang signifikan pada Februari di sektor perhotelan dan konstruksi," kata kepala ekonom di Navy Federal, Heather Long, dilansir dari X.

"Intinya: Pasar kerja sudah membeku sebelum perang di Iran dimulai. Sangat mengkhawatirkan bahwa situasi 'tidak ada perekrutan, tidak ada pemecatan' dapat dengan cepat berubah menjadi pasar kerja 'tidak ada perekrutan, mulai pemecatan' jika tidak ada resolusi segera," tambah Long.

Data JOLTS muncul menjelang laporan penggajian non-pertanian Februari yang ditunggu-tunggu, yang dijadwalkan pada hari Jumat.

Adapun hasil kinerja emiten terus dipantau oleh investor setelah penutupan pasar, salah satunya grup pakaian olahraga Nike (NYSE:NKE). Mereka mencari tanda-tanda dampak perang terhadap perusahaan-perusahaan Amerika.

Melihat pergerakan saham aktif, produsen rempah-rempah McCormick (NYSE:MKC) turun lebih dari 5 persen setelah setuju untuk bergabung dengan bisnis makanan Unilever (NYSE:UL), menciptakan raksasa makanan konsumen dengan pendapatan gabungan sekitar USD20 miliar.

Saham Marvell Technology (NASDAQ:MRVL) meningkat 6,6 persen setelah produsen chip tersebut menjalin kemitraan infrastruktur AI dengan Nvidia. Selain itu, Nvidia akan menginvestasikan USD2 miliar di Marvell.

Saham Microsoft (NASDAQ:MSFT) naik lebih dari 2 persen setelah raksasa perangkat lunak itu mengatakan berencana untuk menginvestasikan lebih dari USD1 miliar dalam infrastruktur kecerdasan buatan di Thailand selama dua tahun ke depan.

(Febrina Ratna Iskana)

Topik Menarik