Dibayangi Risiko Selat Hormuz, Rupiah Melemah ke Rp17.041

Dibayangi Risiko Selat Hormuz, Rupiah Melemah ke Rp17.041

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 31 Maret 2026 - 18:20
share

IDXChannel - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 39 poin atau sekitar 0,23 persen ke level Rp17.041 per USD pada perdagangan Selasa (31/3/2026).

Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, pelemahan ini dipicu oleh penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global dan sejumlah besar kapal tanker gas alam cair.

Hal ini mendorong harga Brent berjangka naik 59 persen sejauh ini pada bulan Maret, kenaikan bulanan tertinggi yang pernah ada. Sementara WTI naik 58 persen bulan ini, yang tertinggi sejak Mei 2020.

“Menyoroti ancaman terhadap pasokan energi melalui laut dari perang antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel, Kuwait Petroleum Corp mengatakan pada hari Selasa bahwa kapal tanker minyak mentah mereka yang bermuatan penuh, Al Salmi, yang mampu membawa hingga 2 juta barel, dihantam oleh serangan yang diduga dilakukan Iran di pelabuhan Dubai, kata kantor berita negara KUNA pada hari Selasa. Para pejabat juga memperingatkan potensi tumpahan minyak di daerah tersebut,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Selasa (31/3/2026).

Sebelumnya, pasukan Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran menargetkan Israel dengan rudal, menimbulkan kekhawatiran baru tentang kemungkinan gangguan terhadap Selat Bab el-Mandeb, titik sempit yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden dan rute utama bagi kapal yang bergerak antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.

Presiden Donald Trump juga memperingatkan bahwa AS akan menghancurkan pembangkit energi dan sumur minyak Iran jika tidak membuka kembali Selat Hormuz. 

Dari sentimen domestik, ekonom memproyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 akan berada di kisaran 5,1-5,2 persen yang ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

“Namun terdapat hambatan dari perlambatan pembentukan modal tetap bruto (PMTB)/investasi dan net-ekspor, penyebabnya memburuknya kondisi global pada Maret 2026 akibat perang di Timur Tengah yang menekan harga energi, pasar keuangan, dan nilai tukar,” kata Ibrahim.

Konsumsi memang menjadi penyangga utama ekonomi Indonesia dan menyumbang sekitar 53-54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga saat dunia global melemah, permintaan dalam negeri bisa menahan perlambatan.

Di lain sisi, sinyal baik tercermin dari survei Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan porsi pendapatan rumah tangga yang dipakai untuk konsumsi turun menjadi 71,6 persen, sementara porsi tabungan naik menjadi 17,7 persen. Artinya, rumah tangga masih belanja, tetapi mulai sedikit lebih berhati-hati.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa uang rupiah akan bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.040-Rp17.070 per USD pada perdagangan selanjutnya.

(DESI ANGRIANI)

Topik Menarik