Harga Minyak Berbalik Arah usai PM Israel Netanyahu Sebut Iran Tak Bisa Perkaya Uranium
IDXChannel - Harga minyak pada hari Kamis berbalik arah setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Iran tidak lagi mampu memperkaya uranium atau membuat rudal balistik setelah hampir tiga minggu serangan AS dan Israel.
Dilansir dari laman Investing Jumat (20/3/2026), harga minyak awalnya melonjak setelah Iran menyerang situs infrastruktur energi utama di Timur Tengah sehingga memperburuk kekhawatiran atas gangguan pasokan minyak mentah.
Para pedagang juga mencermati sejumlah komentar bank sentral tentang guncangan minyak, dengan Federal Reserve, Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of England (BoE) yang mengatakan mereka akan tunggu dan amati kondisi global seiring berjalannya perang.
Adapun kontrak berjangka minyak Brent melonjak hingga 10,9 persen menjadi USD119,11 per barel pada Kamis pagi, sebelum secara bertahap mengurangi kenaikan tersebut hingga pernyataan Netanyahu.
Kontrak tersebut terakhir turun 0,8 persen menjadi USD106,54 per barel pada pukul 15:41 ET (19:41 GMT), berada di dekat level tertingginya sejak akhir Juli 2022.
Sementara itu, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS sebelumnya naik hingga 5,2 persen menjadi USD100,44 per barel, tetapi sekarang turun 1,5 persen menjadi USD94,01 per barel.
Di sisi lain, Israel mengatakan akan bertindak sendiri di South Pars. "Iran tidak memiliki kemampuan untuk memperkaya uranium atau membuat rudal balistik setelah 20 hari perang," kata Netanyahu dalam konferensi pers.
Pemimpin Israel itu juga mengatakan bahwa negaranya bertindak sendiri dalam menyerang ladang minyak South Pars, dan bahwa Presiden Donald Trump telah memintanya untuk menahan diri dari serangan serupa di masa mendatang.
Adapun harga minyak melanjutkan kenaikan tajam dari sesi sebelumnya yang dipicu oleh serangan udara terhadap ladang South Pars, sektor Iran dari cadangan gas alam terbesar di dunia.
Iran pun membalas dengan melancarkan serangan terhadap fasilitas energi di Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Teheran sebelumnya mengancam akan menyerang kompleks Samfef dan Jubail di Arab Saudi, ladang gas Al Hisn di Uni Emirat Arab, dan kilang Ras Laffan di Qatar.
Presiden Donald Trump mengatakan dalam unggahan media sosial bahwa AS tidak mengetahui tentang serangan Israel terhadap South Pars, dan memperingatkan Iran agar tidak melakukan pembalasan lebih lanjut.
Trump mengatakan Israel tidak akan menyerang South Pars lagi dan menambahkan AS akan meledakkan secara besar-besaran ladang gas tersebut jika Iran membalas lebih lanjut.
Prospek serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur minyak Timur Tengah juga meningkatkan kekhawatiran atas kendala pasokan yang disebabkan oleh perang Iran, terutama karena Teheran juga menutup sebagian besar Selat Hormuz, jalur pelayaran utama. Dalam konferensi persnya, Netanyahu mengatakan bahwa Israel membantu AS membuka selat tersebut, sambil mencatat bahwa dunia membutuhkan jalur pipa yang melewati titik kritis tersebut.
Bahkan dilaporkan bahwa pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk mengerahkan ribuan pasukan di Timur Tengah, dengan salah satu tujuannya adalah memastikan jalur aman bagi kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz.
Washington juga mempertimbangkan untuk mengerahkan pasukan ke Pulau Kharg di Iran, setelah Iran menyerang target militer di pusat ekspor minyak tersebut pekan lalu.
(kunthi fahmar sandy)









