Penutupan Selat Hormuz Kerek Harga Bahan Baku, Emiten Kemasan (EPAC) Sesuaikan Harga Jual

Penutupan Selat Hormuz Kerek Harga Bahan Baku, Emiten Kemasan (EPAC) Sesuaikan Harga Jual

Ekonomi | idxchannel | Rabu, 18 Maret 2026 - 05:24
share

IDXChannel - Penutupan Selat Hormuz imbas memanasnya konflik di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga bahan baku industri, termasuk sektor kemasan. 

Manajemen PT Megalestari Epack Sentosaraya Tbk (EPAC) menjelaskan, lonjakan harga minyak dan biaya logistik menjadi faktor utama yang menyebabkan biaya produksi membengkak.

Salah satu bahan baku utama yang digunakan adalah film berbasis resin, yang merupakan turunan produk petrokimia dan sangat bergantung pada harga minyak.

"Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku tersebut, EPAC mengandalkan pasokan dari vendor domestik, baik produsen maupun importir," kata manajemen dalam keterbukaan informasi, Selasa (17/3/2026).

Lebih lanjut, kenaikan harga minyak membuat produsen mengalami lonjakan biaya resin, sementara importir menghadapi tekanan ganda berupa kenaikan harga bahan baku sekaligus biaya logistik.

Akibatnya, sejak pekan ketiga Maret 2026, perseroan mencatat lonjakan harga film yang menjadi bahan baku utama produksi. Kondisi ini mempersempit ruang efisiensi, terlebih EPAC belum menemukan alternatif bahan baku maupun sumber pasokan dengan harga yang lebih kompetitif.

Sebagai langkah mitigasi, perseroan memutuskan untuk menyesuaikan harga jual produk guna menjaga margin keuntungan di tengah kenaikan biaya produksi.

Meski menghadapi tekanan dari sisi biaya, manajemen menyatakan belum memiliki rencana aksi korporasi dalam 12 bulan ke depan. 

"Perseroan saat ini lebih fokus menjaga stabilitas operasional di tengah volatilitas harga energi dan logistik global," tutur manajemen.

Sebagai informasi, harga minyak mentah jenis WTI dan Brent sempat diperdagangkan di atas USD100 per barel, hampir dua kali lipat dibandingkan posisi akhir 2025. 

Di saat yang sama, biaya angkutan global yang tercermin dalam Containerized Freight Index juga melonjak hingga 36 persen sejak eskalasi konflik antara Israel dan Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

(DESI ANGRIANI)

Topik Menarik