Gejolak Harga Minyak Tekan Rupiah, Investor Waspadai Risiko Fiskal RI

Gejolak Harga Minyak Tekan Rupiah, Investor Waspadai Risiko Fiskal RI

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 10 Maret 2026 - 15:10
share

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat melemah hingga menyentuh level Rp17.015 per USD pada perdagangan Senin (9/3/2026) kemarin. 

Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu lonjakan harga minyak dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Menurut Stockbit, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kenaikan tajam harga minyak yang menimbulkan kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal Indonesia, mengingat posisi Indonesia sebagai net importir minyak.

Harga minyak jenis Brent bahkan sempat melonjak 28,9 persen ke level USD119,5 per barel pada perdagangan intraday Senin (9/3/2026). Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 30 Juni 2022 meski harga kemudian bergerak turun dan berada di kisaran USD102,6 per barel pada perdagangan sore hari.

Namun, harga minyak di level tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan asumsi makroekonomi dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar USD70 per barel. Artinya, harga minyak saat ini berada sekitar 46,6 persen di atas asumsi pemerintah.

Selain lonjakan harga minyak, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh kekhawatiran investor terhadap disiplin fiskal Indonesia. 

Kementerian Keuangan mencatat realisasi APBN hingga akhir Februari 2026 telah mengalami defisit sebesar Rp135,7 triliun, atau sekitar 0,53 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Adapun kondisi defisit tersebut berpotensi mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk menyerap dampak kenaikan harga minyak global.

“Realisasi APBN yang mencatat defisit ini berpotensi mempersempit ruang fiskal untuk menyerap kenaikan harga minyak,” tulis Stockbit Senin (9/3/2026).

Stockbit menambahkan, pergerakan harga minyak kini menjadi sumber ketidakpastian baru bagi investor. Pasalnya, lonjakan harga energi berpotensi memengaruhi ketahanan fiskal Indonesia dan memicu langkah penyesuaian kebijakan pemerintah, seperti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) atau penyesuaian belanja negara.

Situasi ini membuat pelaku pasar semakin mencermati perkembangan harga minyak global serta respons kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal dan nilai tukar rupiah.

(DESI ANGRIANI)

Topik Menarik