Analis Proyeksi Saham Energi Bisa Bersinar saat IHSG Melemah

Analis Proyeksi Saham Energi Bisa Bersinar saat IHSG Melemah

Ekonomi | idxchannel | Kamis, 5 Maret 2026 - 04:14
share

IDXChannel - Pelemahan pasar saham karena efek konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran dinilai bisa mendatangkan peluang bagi sejumlah emiten di sektor energi.

Seturut itu, investor dianggap bisa mengambil keuntungan pula berdasarkan sentimen dari emiten energi tersebut.

"Sektor energi menjadi pihak yang paling diuntungkan dari kenaikan harga minyak dan batu bara. Emiten migas seperti APEX, ENRG, ELSA, dan MEDC berpotensi mendapatkan sentimen positif, demikian pula batu bara seperti AADI, ADRO, ITMG, dan PTBA," ujar Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, kepada IDX Channel, Rabu (4/3/2026).

Hendra menerangkan soal sektor komoditas cenderung lebih defensif ketika inflasi energi meningkat. Sebaliknya, sektor transportasi, logistik, manufaktur, dan konsumer perlu diwaspadai karena kenaikan biaya energi berpotensi menekan margin dan daya beli masyarakat.

"Bagi investor, situasi ini menuntut keseimbangan antara kehati-hatian dan keberanian mengambil peluang. Tidak perlu panik, tetapi juga tidak bijak bersikap terlalu agresif," tuturnya.

Dia mengatakan investor mesti jeli mencermati emiten berfundamental kuat yang memiliki arus kas sehat, dan dibekali disiplin dalam manajemen risiko. Sebab, dalam periode penuh ketidakpastian seperti sekarang, kualitas portofolio dan pengaturan porsi investasi jauh lebih penting dibandingkan sekadar mengejar momentum jangka pendek.

Hendra menitikberatkan bahwa ke depan hingga akhir Maret, arah IHSG akan sangat ditentukan oleh dua variabel utama, yaitu harga minyak dan stabilitas rupiah. Selama Brent bertahan di bawah USD90 per barel, tekanan kemungkinan masih sebatas volatilitas jangka pendek.

Jika harga minyak mendekati USD100 dan disertai gangguan distribusi fisik di Selat Hormuz, dia memproyeksi pasar bisa memasuki fase risk off yang lebih dalam. Secara teknikal, area 7.500–7.600 menjadi zona penopang psikologis penting.

"Jika ketegangan mereda dan rupiah stabil, IHSG berpeluang rebound bertahap ke kisaran 7.900–8.100 pada akhir Maret. Sebaliknya, jika eskalasi konflik meluas dan tekanan fiskal meningkat, indeks masih berisiko menguji kembali area 7.400," tutur Hendra.

Adapun IHSG terus merosot ke level 7.577 atau terkoreksi 4,57 persen pada penutupan perdagangan Rabu (4/3/2026).

Menukil data RTI Business pada pukul 16.03, IHSG sempat menjangkau level tertinggi 7.897 dan level terendah pada 7.486. Adapun IHSG mencatat nilai transaksi sebesar Rp29,72 triliun dengan volume transaksi sebanyak 53,61 miliar saham.

Sebanyak 734 saham bergerak di zona merah, 54 saham berada di zona hijau, dan 33 saham lainnya stagnan. Kapitalisasi pasar IHSG susut ke level Rp13.549,4 triliun.

Hampir keseluruhan saham mencatatkan nilai pelemahan. Mulai dari sektor bahan baku, properti, konstruksi hingga perbankan.

Di sektor market resources, emiten INCO membukukan koreksi dalam sampai 10,07 persen. Pada sektor properti, pelemahan terbesar dialami emiten SSIA (7,97 persen), sektor konstruksi ada SMGR (8,09 persen).

(Febrina Ratna Iskana)

Topik Menarik