Harga Batu Bara Melesat, Saham AADI-ABMM Cs Kembali Hijau
IDXChannel – Saham emiten batu bara kembali menguat pada perdagangan Selasa (3/3/2026) seiring lonjakan harga batu bara global yang menembus level tertinggi dalam sekitar setahun terakhir.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.02 WIB, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) memimpin kenaikan, yakni sebesar 6,06 persen ke Rp10.500 per unit.
Di posisi kedua, saham PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) naik 3,64 persen ke Rp2.850 per unit, disusul PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang mendaki 3,23 persen.
Kemudian, saham PT ABM Investama Tbk (ABMM) yang terkerek 2,72 persen, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) 2,55 persen, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) 2,38 persen, dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) 1,42 persen.
Konflik yang memanas di Iran tak hanya mengguncang pasar minyak dan gas global, tetapi juga mengerek harga batu bara dunia.
Meski tidak berada di garis depan konflik, komoditas ini justru menikmati limpahan sentimen positif seiring melonjaknya harga energi dan terganggunya pasokan gas alam cair (LNG) dari Timur Tengah.
Mengutip laporan Barron’s, Selasa (3/3/2026), harga batu bara di pasar Rotterdam melonjak sekitar 13 persen pada Senin menjadi USD119,50 per ton, level tertinggi dalam 52 pekan.
Batu bara justru diuntungkan karena tidak terdampak langsung oleh konflik ini, berbeda dengan sumber energi lain yang menjadi pesaingnya.
Dalam pembangkit listrik, batu bara dan gas alam bersifat substitusi. Ketika harga gas alam menjadi terlalu mahal atau pasokannya terancam, perusahaan utilitas kerap beralih ke batu bara.
Pasar gas alam terpukul keras oleh konflik Iran. Qatar, yang memasok sekitar 20 persen kebutuhan gas alam cair (LNG) global, terpaksa menghentikan produksi setelah fasilitasnya diserang.
Selain itu, kapal-kapal pengangkut LNG saat ini terhambat melintasi Selat Hormuz, jalur perairan dari Teluk Persia yang menjadi akses utama eksportir Timur Tengah menuju Asia.
Asia dan Eropa sama-sama sangat bergantung pada pasokan LNG dari Timur Tengah, namun Asia dinilai lebih bergantung.
Pakistan, misalnya, memperoleh hampir 100 persen pasokan LNG-nya dari Qatar, menurut Rystad Energy. Bangladesh dan India juga mendapatkan sebagian besar LNG mereka dari kawasan tersebut.
“Negara-negara itu kemungkinan beralih ke batu bara untuk pembangkit listrik ketika perang mendorong biaya energi melonjak,” ujar analis batu bara di OPIS, unit Dow Jones, James Stevenson.
Salah satu keunggulan batu bara adalah dapat disimpan di lokasi pembangkit dalam jumlah yang cukup untuk bertahan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
“Batu bara jelas memiliki persoalan polusi yang serius,” kata Stevenson.
Ia melanjutkan, “Namun, batu bara juga punya sejumlah keunggulan kuat dibandingkan bahan bakar lain, keandalan mungkin yang paling utama. Anda tidak perlu menunggu matahari bersinar atau angin bertiup. Bahan bakarnya sudah tersedia di tempat. Dari sisi rantai pasok, mungkin hanya nuklir yang lebih andal.”
Dalam jangka panjang, Stevenson menilai negara-negara dapat mengambil pelajaran dari situasi ini dengan mengurangi ketergantungan pada sumber energi yang lebih sensitif secara politik seperti gas alam, yang harus diangkut melalui pipa atau kapal dan tidak mudah disimpan.
Pilihan tersebut bisa mencakup batu bara, meski negara seperti di Eropa hampir pasti tidak akan membangun pembangkit batu bara baru.
Gejolak ini juga berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan energi nuklir dan energi terbarukan, yang tidak memerlukan bahan bakar dalam operasionalnya. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.










