Deltamas (DMAS) Kantongi Laba Rp800 Miliar di 2025, Turun 40 Persen
IDXChannel - PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), pengelola Kota Deltamas bagian dari Sinarmas Group mengalami tekanan kinerja sepanjang tahun lalu. Perseroan membukukan laba bersih Rp800 miliar, anjlok 40 persen dari 2024 yang mencapai Rp1,33 triliun.
Tekanan pada laba bersih tersebut disebabkan penurunan pendapatan usaha hingga 36 persen menjadi Rp1,31 triliun. Penurunan tersebut imbas penjualan lahan industri yang turun signifikan.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Deltamas, Tondy Suwanto mengatakan, pendapatan usaha perseroan masih didominasi oleh segmen industri sedangkan hunian, komersial, dan hotel sekitar 12 persen. Penjualan lahan industri terbesar disumbang oleh sektor data center, diikuti FMCG, pangan, dan lain-lain.
"Sebesar 88 persen pendapatan usaha perseroan berasal dari segmen industri," kata Tondy melalui keterangan resmi, Senin (2/3/2026).
Laba usaha Deltamas mencapai Rp623 miliar, turun 45 persen dan marginnya juga terkoreksi dari56 persen menjadi 48 persen. Margin laba bersih juga turun dari 66 persen menjadi 61 persen.
Tekanan pada kinerja keuangan Deltamas juga tergambar pada arus kas dari aktivitas operasi yang hanya Rp23 miliar, anjlok 79 persen dari 2024 yang mencapai Rp748 miliar.
Namun, perseroan mendapatkan kembali deposito yang dijaminkan sebesar Rp501 miliar setelah membatalkan pencairan pinjaman kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp500 miliar.
Dengan arus kas operasi yang minim dan pembelian aset tetap Rp50 miliar, posisi kas dan setara kas Deltamas tersisa Rp377 miliar. Angka ini turun signifikan bila dibandingkan akhir 2024 saat perseroan memiliki kas Rp1,76 triliun.
Posisi kas yang jauh di bawah pencapaian laba bersih tersebut mencerminkan kesulitan perseroan untuk membayarkan dividen jumbo kepada pemegang saham dengan kasnya, kecuali menambalnya lewat utang.
Per 30 Desember 2025, Deltamas tidak memiliki utang berbunga. Sementara aset perseroan mencapai Rp7,12 triliun dengan ekuitas tercatat Rp6,61 triliun.
(Rahmat Fiansyah)









